JAKARTA – Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Warsito menegaskan bahwa penguatan karakter dan jati diri bangsa merupakan fondasi utama dalam pembangunan pemuda menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Integrasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa dalam Mendukung Capaian Indeks Pembangunan Pemuda” yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Gema Pemuda 2026, di Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (1/6/2026).

Menurut Warsito, Indonesia saat ini berada pada momentum strategis bonus demografi yang harus dimanfaatkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, moral, dan semangat kebangsaan yang kuat.
“Pancasila merupakan pemersatu bangsa sekaligus fondasi utama pembangunan nasional. Karena itu, penguatan karakter tidak boleh dipisahkan dari pembangunan sumber daya manusia. Kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari aspek ekonomi dan kompetensi, tetapi juga harus ditopang oleh karakter, moral, dan kohesi sosial yang kuat,” ujarnya.
Warsito menjelaskan, berdasarkan data, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 66,83 juta jiwa atau 22,99 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara itu, capaian Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) metode baru pada tahun 2024 sebagai baseline tercatat sebesar 62,88 dan diproyeksikan meningkat menjadi 65,78 pada tahun 2025. Meskipun menunjukkan tren positif, tantangan pada aspek kepemimpinan, partisipasi, ketenagakerjaan, serta penguatan karakter masih menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pembangunan pemuda nasional.
Ia menilai berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks, mulai dari krisis identitas, disrupsi digital, budaya instan, tekanan kesehatan mental, hingga menurunnya keteladanan sosial.
“Indikator pembangunan sumber daya manusia perlu dilengkapi dengan dimensi karakter, moral, dan kohesi sosial. Sebab pembangunan yang berkelanjutan memerlukan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan yang kuat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Warsito menekankan bahwa sumber daya manusia unggul harus dibangun secara menyeluruh, mencakup kesehatan fisik, mental, dan spiritual; kecerdasan dan daya saing; produktivitas dan partisipasi dalam pembangunan; serta karakter dan moral yang kuat.
Menurutnya, pemuda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dan penggerak pembangunan bangsa. Oleh karena itu, investasi pada penguatan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus terus diperkuat melalui berbagai program dan kolaborasi lintas sektor.
“Pemuda memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan sosial dan pembangunan bangsa. Karena itu, investasi pada penguatan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai sejak dini agar mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Warsito juga menegaskan peran strategis Kemenko PMK dalam mengoordinasikan dan menyinkronkan kebijakan lintas kementerian dan lembaga guna memastikan pembangunan manusia berjalan secara terpadu sesuai arah pembangunan nasional.
“Kami di Kemenko PMK memiliki tugas untuk memastikan implementasi arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN berjalan secara terintegrasi. Karena itu, kami memberikan perhatian besar terhadap berbagai inisiatif pemberdayaan pemuda sebagai bagian penting pembangunan manusia Indonesia,” ujarnya.
Forum diskusi turut menyoroti pentingnya kontekstualisasi nilai-nilai karakter di era digital. Nilai religius, bermoral, sehat, kreatif, disiplin, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama perlu diterjemahkan dalam perilaku yang relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini, termasuk dalam pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab.
“Saat ini kita hidup di era transformasi digital dan kecerdasan artifisial yang berkembang sangat cepat. Karena itu, kami mengajak seluruh ekosistem pembangunan karakter, mulai dari keluarga, masyarakat, satuan pendidikan, organisasi kepemudaan, tokoh agama, hingga ruang digital, untuk menjadi satu gerakan bersama dalam membangun generasi muda Indonesia yang berkarakter, tangguh, dan berjati diri kuat,” tegasnya.
Menutup paparannya, Warsito mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun ekosistem karakter yang berkelanjutan serta mendorong pemuda untuk terus menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
“Kita boleh berbeda suku, budaya, maupun daerah asal, tetapi tetap satu dalam semangat kebangsaan sebagai warga negara Indonesia. Dengan karakter yang kuat, rasa cinta tanah air, dan komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila, pemuda Indonesia akan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan FGD bertema “Integrasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa dalam Mendukung Capaian Indeks Pembangunan Pemuda” yang diinisiasi oleh Ikatan Ketua Pejuang Perempuan Indonesia (IKPPI) tersebut mempertemukan berbagai unsur pemuda, komunitas, organisasi masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan untuk mendiskusikan arah pembangunan pemuda Indonesia dalam lima tahun ke depan. Forum ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas tantangan pembangunan karakter, kepemimpinan, partisipasi sosial, transformasi digital, serta kesiapan generasi muda menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.(*)





