Perusahaan Mulai Melirik PLTS Hybrid, Ketahanan Operasional Jadi Pertimbangan

oleh
1783828706o

JAKARTA — Kebutuhan menjaga keberlangsungan operasional mendorong semakin banyak perusahaan mempertimbangkan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hybrid sebagai bagian dari strategi pengelolaan energi.

Perubahan cara pandang tersebut tidak lagi semata-mata bertumpu pada potensi penghematan biaya listrik. Bagi perusahaan, terutama sektor industri dan komersial, ketersediaan energi yang andal dan fleksibel kini menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas bisnis.

Salah satu pihak yang menyoroti perubahan tersebut adalah pelaku industri solusi energi surya yang melihat perusahaan mulai mempertimbangkan kombinasi PLTS dengan sumber energi lain dan sistem penyimpanan energi.

Dalam laporan yang dimuat Kontan.co.id, sistem PLTS hybrid dinilai memberi pilihan lebih luas bagi perusahaan dalam mengatur pasokan listrik sesuai kebutuhan operasional.

   

Efisiensi dan Keandalan Energi Jadi Pertimbangan

Sistem PLTS hybrid menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan sumber energi lain, yang dapat mencakup jaringan listrik maupun sistem penyimpanan energi seperti baterai.

Skema tersebut memungkinkan energi surya digunakan ketika tersedia, sementara sumber lain dapat menopang kebutuhan listrik pada kondisi tertentu.

Baca Juga  Samsung Luncurkan One UI 8.5 Beta, Siap Tingkatkan Kemudahan Tanpa Batas

Kebutuhan terhadap sistem energi yang lebih fleksibel semakin relevan bagi perusahaan yang memiliki aktivitas operasional dengan kebutuhan pasokan listrik berkelanjutan.

Data Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menunjukkan kapasitas PLTS nasional terus berkembang. Hingga April 2026, kapasitas PLTS mencapai 510,57 MW, sementara kapasitas PLTS atap tercatat 916,99 MW.

Ketahanan Operasional Mulai Diperhitungkan

Perkembangan kebutuhan energi di sektor industri turut mengubah pertimbangan perusahaan dalam mengadopsi energi terbarukan.

Laporan mengenai perkembangan PLTS di sektor industri menunjukkan bahwa ketahanan operasional kini menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan, selain efisiensi biaya dan target keberlanjutan. Perusahaan juga semakin memperhatikan kemampuan sistem energi dalam menghadapi perubahan kebutuhan operasional dan potensi gangguan pasokan.

Pemerintah sendiri menempatkan peningkatan bauran energi terbarukan dan pengembangan PLTS sebagai bagian dari program prioritas sektor energi pada 2026.

Perusahaan Perlu Menyesuaikan dengan Kebutuhan Operasional

Bagi pelaku usaha, pemilihan sistem energi tidak dapat dilakukan dengan satu model yang sama untuk seluruh jenis perusahaan.

Baca Juga  Banjir Kunjungan, Menteri Kabinet Indonesia Maju Apresiasi Program TJSL Pertamina

Karakteristik konsumsi listrik, pola operasional, kebutuhan daya, serta tingkat ketergantungan terhadap pasokan listrik menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan sistem yang digunakan.

Pengalaman implementasi PLTS di sektor industri juga menunjukkan perusahaan mulai memperluas kapasitas sistem secara bertahap sesuai kebutuhan fasilitas produksinya. PT Sariguna Primatirta Tbk, misalnya, telah memperluas implementasi PLTS ke sejumlah fasilitas pabriknya sebagai bagian dari strategi penggunaan energi terbarukan.

PLTS Bukan Lagi Sekadar Program Energi Hijau

Pemanfaatan PLTS di lingkungan korporasi kini semakin berkaitan dengan strategi pengelolaan energi secara menyeluruh.

PT PLN (Persero), misalnya, telah menerapkan konsep pengelolaan energi terintegrasi melalui program Smart & Green Building, yang menggabungkan PLTS atap dengan sistem pengaturan konsumsi listrik dan teknologi digital.

Di sektor lain, PT Kereta Api Indonesia juga mengembangkan pemanfaatan PLTS di puluhan lokasi operasional. Hingga Juni 2026, KAI mencatat pengembangan 113 unit PLTS di 92 lokasi dengan kapasitas terpasang mencapai 4.430,65 kWp.

Baca Juga  Buka Harga IPO Mulai Dari Rp 150, BSA Logistics Targetkan Dana Rp 306 Miliar

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa energi surya semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi operasional perusahaan, bukan hanya sebagai upaya menekan emisi.

Sistem Hybrid Membuka Pilihan Baru

Dalam konteks tersebut, PLTS hybrid menawarkan fleksibilitas karena tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber energi.

Namun, penerapan sistem ini tetap membutuhkan perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan, termasuk pola konsumsi listrik, kapasitas pembangkit, kebutuhan penyimpanan energi, dan biaya investasi.

Pengelolaan serta pemantauan sistem juga menjadi bagian penting untuk menjaga kinerja pembangkit dan penyimpanan energi. Pengembangan pusat pemantauan PLTS berbasis data secara real-time juga mulai dilakukan sejumlah perusahaan untuk mengoptimalkan performa sistem dan mendeteksi gangguan lebih cepat.

Bagi perusahaan, perkembangan teknologi tersebut membuka pilihan untuk membangun sistem energi yang lebih fleksibel. Sementara bagi pelaku industri energi surya, meningkatnya perhatian terhadap efisiensi dan ketahanan operasional berpotensi memperluas penggunaan PLTS, termasuk model hybrid yang mengombinasikan energi surya dengan sumber daya dan teknologi pendukung lainnya.(kontan/esdm/pln/antara/harnas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *