14 April 2021 | 20:40 WIB

Urbannews.id

Independen dan Berimbang

CERI: Polri Harus Ungkap Penyebab Kebakaran Kilang Balongan

Asap tebal masih membungbung dari komplek Kilang Balongan, Selasa (30/3/2021). foto/ist

URBANNEWS.ID – Kebakaran tangki T301 di area kilang Balongan telah menimbulkan kerugian besar bagi Pertamina. Selain itu, juga telah menimbulkan korban luka berat dan ringan 20 orang. Jika fasilitas empat tangki BBM yang terbakar ludes, maka kerugian Pertamina bisa mencapai sekitar Rp 1,25 triliun.

Demikian kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources (CERI), Yusri Usman kepada urbannews.id, Selasa (30/3/2021).

“Taksiran kerugian itu bukan lah mustahil. Yaitu berdasarkan asumsi jumlah BBM yang terbakar ludes sekitar 600.000 barel hingga 800.000 barel di dalam empat tangki tersebut. BBM ini bisa bernilai sekitar USD 56 juta. Di tambah biaya pembangunan empat tangki sekitar USD 20 juta dan biaya operasi pemulihan sekitar USD 2 juta,” ungkap Yusri.

“Nilai itu belum masuk akibat tindakan emergency shut down untuk mencegah penyebaran efek api. Artinya bukan normal shutdown seperti kata pejabat-pejabat Pertamina, itu keliru. Ada kehilangan produksi BBM sebanyak sekitar 400.000 barel dari kilang Balongan selama empat sampai dengan lima hari ke depan, kata Mulyono sebagai Direktur Infrastruktur Pertamina Holding pada 29 Maret 2021,” lanjut Yusri.

Merugi Rp 1,5 triliun

Lebih lanjut Yusri mengatakan, api yang membakar sampai dengan 30 Maret 2021 pagi juga belum padam total. Melihat kondisi itu, maka potensi nilai kerugian itu bisa membengkak mencapai sekitar Rp 1,5 triliun.

“Dalam catur wulan ini saja, di kilang Balongan telah terjadi dua peristiwa besar sebelumnya. Yaitu pada periode Desember 2020 dan awal 2021 telah terjadi shutdown di kilang akibat boiler blow up,” sambung Yusri.

Yusri mengatakan, terkesan kental bahwa sebenarnya jika menelisik lebih dalam, maka akan terungkap informasi bahwasanya pihak manajemen agak kurang memperhatikan sistem kerja dan kualitas SDM di area luar.

“Yakni area utilities dan area ITP. Area ini yang mengurusi instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM. Termasuk juga unit laboratorium agak terabaikan. Kelihatannya mereka hanya lebih fokus memperhatikan SDM di unit proses,” ulas Yusri.

Sistem kasta di lingkungan kerja kilang

Yusri mengungkapkan, telah terjadi kasta di lingkungan semua kilang Pertamina. “Kasta paling tinggi adalah orang yang mengendalikan unit proses, kasta kedua yang menangani unit utilities, kasta ketiga adalah yang menangani unit ITP, yakni instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM. Sedangkan kasta yang paling rendah adalah yang keempat, yaitu yang menangani unit laboratorium di kilang,” beber Yusri.

Jika Pertamina tidak segera membenahinya, kata Yusri, maka persoalan yang sama atau lebih parah akan dapat terjadi lagi di kilang Balongan maupun kilang lainnya. Khususnya di area di luar unit proses.

“Berdasarkan fakta yang beredar, telah terjadi kebocoran minyak di duga dari dari salah satu tangki. Sehingga ada upaya pemindahan BBM. Pemindahannya secara gravity dari tangki yang bocor berisi penuh BBM ke tangki lainnya yang isinya belum penuh,” ungkap Yusri.

Karena itu, kata Yusri, dalam proses pemindahan BBM itu, terdeteksi adanya ceceran minyak di sekitar area tangki pada Minggu, 28 Maret 2021. “Ini tercium oleh warga sekitar tangki. Warga telah mendatangi pihak sekuriti Pertamina Balongan pada Minggu, 28 Maret 2021 malam,” kata Yusri.

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, jika benar ada ceceran minyak, ada angin, soal pemantik kebakaran bisa saja bersumber dari mana saja.

“Bisa dari petir, bisa juga dari orang yang merokok di sekitar itu. Bisa dari signal HP petugas atau pun dari gesekan electric static di sekitar lokasi bocoran minyak,” ulas Yusri.

Telisik lebih mendalam

Lebih lanjut Yusri mengatakan, beberapa kemungkinan penyebab itu lah yang harus di telisik lebih dalam. Tentunya dari bukti-bukti yang di dapat oleh pihak Polri.

“Jika hal tersebut sebagai penyebab kebakaran mengandung kebenaran dan bersesuaian dengan hasil investigasi Tim Puslafor Mabes Polri, maka pernyataan bahwa penyebab kebakaran tangki itu adalah petir, pasti akan terbantahkan,” kata Yusri.

“Meskipun sejak awal kami sangat meragukan keterangan pihak Pertamina soal adanya petir sebagai sumber apinya. BMKG juga sudah membantahnya pada Senin 29 Maret 2021 malam,” lanjut Yusri.

Menurut Yusri, ada kemungkinan akan banyak barang bukti penyebab kebakaran, seperti posisi kebocoran tangki akan sulit di temukan di TKP. Hal ini akibat panas api yang sangat tinggi dan berlangsung agak lama, telah menyebabkan sejumlah tangki dan pipa serta peralatan safety yang telah berubah bentuk dari bentuk awalnya.

“Oleh karena itu, salah satu hal yang mutlak di lakukan adalah membuka rekaman di ruang kontrol kilang yang banyak menyimpan semua rekam jejak tentang empat tangki yang terbakar itu. Termasuk tentunya data tentang proses pemeliharaan yang rutin di lakukan oleh tim Health Safety, Security and Enviroment atau HSSE. Apakah sudah bekerja sesuai SOP dan apakah ada catatan khusus terkait keempat tangki itu sebelum terbakar, termasuk adanya kebocoran yang harus segera ada perbaikan, namun terlambat di lakukan?,” ulas Yusri.

Yusri mengatakan, keterangan dari petugas yang bertanggungjawab terhadap area tangki itu sangat di perlukan untuk memperkuat data yang di peroleh dari ruang kontrol. Hal itu agar bisa memperkuat kesimpulan akhir faktor penyebab utama yang telah membuat keempat tangki BBM itu bisa terbakar hebat.

“Padahal, pada prinsipnya jika selama proteksi safety terawat dengan baik dan standar prosedur HSSE di jalankan dengan benar dan ketat, dapat di pastikan semua fasilitas utama dan penunjang di area kilang aman terkendali,” ungkap Yusri.

Kasus Balongan jangan seperti ledakan Kilang Cilacap tahun 1984

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, publik berharap besar pada jajaran Polri, agar jangan terulang kembali seperti kasus terbakar dan meledaknya tangki Pertamina di Cilacap tahun 1984.

“Saat itu dua orang terdakwa Ir Wisnu Broto Pranadi dan Ir Basran Bin Hadran yang didakwa dengan dakwaan berlapis, namun dibebaskan dari segala dakwaan oleh PN Cilacap sampai Mahkamah Agung,” ulas Yusri.

Yusri menceritakan, Majelis Hakim PN sampai MA dapat menerima pleidoi Penasihat Hukum kedua terdakwa yang menjalani sidang secara terpisah. Advokat kondang Augustinus Hutajulu SH, yang dengan analisa hukumnya menyimpulkan bahwa kebakaran dan meledaknya tanki yang telah menelan korban jiwa 19 orang tewas itu adalah suatu mysterious accident, yang tidak atau belum diketahui penyebabnya.

“Dengan tidak diketahuinya penyebab kebakaran maka tidak mungkin mencari siapa yang harus bertanggung jawab secara pidana. Demikian kesimpulan Augustinus Hutajulu waktu itu,” ungkap Yusri.

Yusri menceritakan, Majelis Hakim PN dan Mahkamah Agung dapat menerima argumentasi itu dan membebaskan kedua terdakwa dari segala dakwaan alias bebas murni.

“Atas putusan itu, tim JPU bukannya menyadari lemahnya alat bukti atau kemampuan membuktikan, malah hanya berkomentar di pers bahwa apa iya penyebabnya mahluk Jin?,” ungkap Yusri.

Padahal, kata Yusri lagi, waktu itu penyidikan kasus itu melibatkan Polres Cilacap, Polda Jateng dan Mabes Polri bahkan Kopkamtib.(hen)

Baca juga:

Kilang Balongan Terbakar, CERI: Penjelasan Pertamina Tak Masuk Akal

Bagikan