Pulau Penyengat Jadi Jejak Penting Peradaban Melayu, Warisan Raja Ali Haji Terus Dijaga

oleh
IMG 5878
Jamintel Kejagung RI Reda Manthovani bersama Gubernur Kepri melihat maket museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepri, Rabu (26/8/2026). ANTARA/HO-Diskominfo Kepri

TANJUNGPINANG — Pulau Penyengat kembali mendapat perhatian sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah dan perkembangan peradaban Melayu. Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI Reda Manthovani menilai berbagai peninggalan yang masih terjaga di pulau tersebut menjadi bukti kuat perjalanan sejarah Melayu.

Hal itu disampaikan Reda saat mengunjungi Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (26/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Reda didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan jajaran pemerintah daerah.

“Pulau Penyengat sangat luar biasa, saya senang bisa menginjakkan kaki ke pulau bersejarah ini,” ujar Reda, seperti diberitakan ANTARA.

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda pejabat pemerintah. Bagi masyarakat, Pulau Penyengat menyimpan warisan sejarah yang berkaitan dengan kerajaan Melayu, perkembangan intelektual, tradisi Islam, serta perjalanan bahasa dan kebudayaan.

   
Baca Juga  Terkait Jalan Rusak, Bupati Rohil Lakukan Audiensi Kubu Kuba dengan PT Jatim dan PT PHR

Mengenal Jejak Raja Ali Haji

Dalam kunjungannya, Gubernur Ansar memperkenalkan sejarah Kesultanan Riau-Lingga kepada Reda, termasuk kiprah Raja Ali Haji yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.

Salah satu warisan pemikiran Raja Ali Haji adalah Gurindam Dua Belas, karya yang memiliki posisi penting dalam khazanah sastra dan perkembangan bahasa Melayu.

Rombongan juga berziarah ke kompleks makam Raja Hamidah atau Engku Putri serta makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji. Di lokasi tersebut, rombongan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan peradaban Melayu.

Bagi generasi sekarang, keberadaan situs-situs tersebut menjadi ruang untuk mengenal kembali sejarah yang berkembang di Kepulauan Riau dan kaitannya dengan perjalanan kebudayaan Melayu.

Pulau Kecil dengan Warisan Besar

Baca Juga  Volume Kendaraan Masuk Kota Malang Diprediksi Meningkat 16,2 Persen Selama Libur Lebaran

Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Masjid tersebut menjadi salah satu ikon utama Pulau Penyengat dengan sejarah pembangunan dan arsitektur yang khas.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebelumnya menyebut Pulau Penyengat memiliki sedikitnya 46 situs cagar budaya yang menjadi saksi perjalanan sejarah Melayu. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional.

Kekayaan tersebut membuat Pulau Penyengat tidak hanya penting bagi sejarah, tetapi juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan sejarah.

Warisan Sejarah Didorong Tetap Hidup

Gubernur Ansar mengatakan pengenalan sejarah Pulau Penyengat merupakan bagian dari upaya memperkuat citra Kepulauan Riau sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Menurut dia, pelestarian kawasan juga penting agar warisan leluhur tetap dikenal oleh generasi mendatang. Pemerintah Provinsi Kepri kini menjalankan program Penyengat Bedelau, yang mencakup penataan jalan dan drainase, penerangan, permukiman warga, fasilitas di sekitar situs bersejarah, serta pengembangan ruang interpretasi.

Baca Juga  Kemah Tahfidz dan Bahasa VII Pesantren Muhammadiyah Sulsel, Pj Wali Kota Ucapkan Terima Kasih

Upaya pelestarian tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata. Pada 2026, Pulau Penyengat juga menjadi lokasi Penyengat Heritage 2026, yang menggabungkan kegiatan budaya, olahraga, ekonomi kreatif, dan keterlibatan masyarakat.

Bagi warga Pulau Penyengat, pengembangan kawasan tersebut bukan hanya soal mendatangkan wisatawan. Pelestarian situs sejarah juga berkaitan dengan menjaga identitas budaya dan memastikan generasi muda tetap mengenal tokoh serta warisan yang tumbuh di pulau tersebut.

Kunjungan Jamintel menjadi momentum untuk kembali memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai bagian penting dari sejarah Melayu sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian warisan budaya membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *