Pertumbuhan Kopi Indonesia Dinilai Harus Ikut Menguatkan Petani dan Generasi Muda

oleh
Photo 5

JAKARTA — Pertumbuhan industri kopi Indonesia dinilai tidak cukup hanya ditandai dengan meningkatnya produksi, penjualan, dan penggunaan teknologi. Di balik secangkir kopi, terdapat jutaan petani, pekerja, pengolah, roaster, hingga barista yang menentukan kualitas sekaligus menjaga pengetahuan dan budaya kopi Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan CEO Roemah Koffie Felix TJ dalam sesi IdeaFest 2026 bertajuk “Rooted in Culture, Brewed by Hand: Rehumanizing Coffee” di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Felix mengatakan, pertumbuhan industri kopi semestinya memberikan nilai lebih besar bagi manusia yang berada di sepanjang rantai produksi, terutama petani dan generasi penerusnya.

“Di balik satu cangkir kopi ada ekosistem manusia yang panjang dan saling terhubung. Ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya,” ujar Felix.

   

Data yang dicantumkan dalam materi Roemah Koffie menunjukkan produksi kopi nasional pada 2024 mencapai sekitar 813 ribu ton. Lebih dari 95 persen produksi disebut dikelola petani kecil, dengan sekitar 1,2 juta keluarga petani terlibat dalam industri tersebut.

Sementara itu, nilai ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,513 miliar dolar AS dengan volume 511.182 ton.

Baca Juga  Sukses Raih HR Asia Awards 2026, PGN Buktikan Miliki Budaya Kerja Sehat dan Kolaboratif

Menurut Felix, besarnya produksi dan nilai perdagangan tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan, kapasitas, serta keberlanjutan ekosistem di daerah penghasil kopi.

“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi risiko yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” katanya.

Regenerasi Petani Jadi Perhatian

Selain persoalan nilai ekonomi, Felix menyoroti regenerasi petani kopi. Ia melihat masih terdapat daerah yang aktivitas pertaniannya banyak dijalankan generasi lebih tua, sementara jumlah penerus semakin terbatas.

Kondisi tersebut dinilai berisiko membuat Indonesia kehilangan bukan hanya kapasitas produksi, tetapi juga pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman antargenerasi.

Felix menceritakan pengalamannya bertemu keluarga petani kopi di Garut. Salah seorang anggota keluarga, Robby, tidak menyelesaikan pendidikan SMP, tetapi secara mandiri mempelajari metode pengolahan kopi melalui telepon genggam, termasuk fermentasi anaerobik.

Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan pada sebagian hasil panen keluarganya. Kopi yang diolah dengan metode tersebut menghasilkan karakter dan nilai yang lebih tinggi dibandingkan ketika hanya dijual sebagai hasil panen mentah.

Bagi Felix, pengalaman itu menunjukkan teknologi dapat membuka kesempatan bagi generasi muda di daerah untuk meningkatkan nilai hasil pertanian tanpa harus memutus hubungan dengan pengetahuan keluarga.

Baca Juga  GreenTeams Gelar Diskusi Kolaboratif Dekarbonisasi Industri Menuju Net Zero 2050 di Hari Bumi 

“Kalau generasi berikutnya meninggalkan pertanian, kopi Indonesia akan kehilangan bukan hanya produksinya, tetapi juga pengetahuan dan budaya yang selama ini menjaganya,” ujarnya.

Teknologi Tidak Menggantikan Peran Manusia

Felix juga menilai perkembangan teknologi dapat membantu petani dan pelaku industri kopi memperoleh informasi, meningkatkan kualitas, serta memperluas akses pasar. Namun, teknologi menurut dia tetap harus ditempatkan sebagai alat.

“Technology is just a tool. Kita tidak mengagungkan teknologinya, tetapi menggunakannya sebagai alat yang tepat. Teknologi tidak boleh melampaui kehebatan manusianya,” katanya.

Menurut dia, teknologi justru dapat digunakan untuk memperkenalkan asal-usul kopi, pengetahuan lokal, serta cerita masyarakat penghasil kopi kepada konsumen yang lebih luas.

Prinsip tersebut juga dinilai penting dalam menjaga keterlibatan perempuan dan komunitas lokal dalam proses produksi. Felix mencontohkan perempuan di Flores yang memiliki peran dalam pemilihan biji kopi. Ketelitian dan pengalaman mereka turut memengaruhi kualitas kopi sekaligus mencerminkan pengetahuan yang berkembang di komunitas setempat.

Karena itu, modernisasi industri kopi dinilai tidak seharusnya menghapus praktik lokal. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan memperluas pengenalan terhadap praktik tersebut kepada generasi berikutnya.

Baca Juga  Pertamina Perkuat Sektor Hulu, 7 Anak Usaha Hulu Dominasi Produksi Migas Nasional

Kopi sebagai Pembawa Cerita Budaya

Roemah Koffie kemudian menerjemahkan pendekatan tersebut melalui filosofi “Rasa dan Kisah”, yang menggabungkan pengalaman menikmati kopi dengan cerita mengenai manusia, daerah asal, serta budaya yang melahirkannya.

Filosofi tersebut antara lain diwujudkan melalui penggunaan nama lagu daerah untuk sejumlah produk. Salah satunya Cublak Suweng, yang diperkenalkan pada Juli 2026 sebagai premium roastery blend yang memadukan kopi Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah.

Menurut Felix, kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi bagian dari cara memperkenalkan kopi ke pasar yang lebih luas tanpa harus menciptakan cerita baru yang tidak memiliki akar.

“Cita-citanya bukan hanya agar dunia mengetahui bahwa Indonesia menghasilkan kopi. Kita ingin dunia memahami bahwa kopi Indonesia membawa pengetahuan, keterampilan, keragaman budaya, dan cerita manusia,” kata Felix.

Melalui gagasan Rehumanize Coffee, Roemah Koffie mendorong agar ekspansi pasar kopi Indonesia tetap berjalan bersama pengakuan terhadap petani, keterampilan pekerja, pengetahuan lokal, dan budaya yang membentuk karakter kopi dari berbagai daerah.

Tulisan ini bisa saya buatkan juga dalam versi lebih pendek sekitar 30–40 persen dengan gaya naskah berita televisi nasional/VO reporter, tanpa menghilangkan substansi utama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *