261 Siswa SMK Belajar Pertanian Modern, Panen Bawang Merah Naik Lima Kali Lipat

oleh
1788844157 69d160402fa450392cac

GRESIK — Sebanyak 261 siswa dari tiga SMK pertanian di Jawa Timur mengikuti program School Lab Farming yang memperkenalkan teknologi pertanian modern sekaligus pengelolaan usaha tani. Program ini menjadikan lahan sekolah sebagai ruang praktik, produksi, hingga pembelajaran bisnis pertanian.

Salah satu hasilnya terlihat di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar. Para siswa berhasil memanen sekitar 800 kilogram bawang merah kering dari lahan seluas 1.000 meter persegi. Hasil tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang menghasilkan sekitar 150 kilogram dari luasan lahan yang sama.

Program tersebut digagas PT Petrokimia Gresik sebagai salah satu upaya memperkenalkan sektor pertanian kepada generasi muda melalui pendekatan teknologi, data, produktivitas, dan peluang usaha.

Menurut pemberitaan Bangsaonline, para siswa tidak hanya belajar menanam dan merawat tanaman, tetapi juga mencatat perkembangan tanaman, kondisi media tanam, kebutuhan pemupukan hingga hasil produksi secara terukur.

   

Belajar Bertani dengan Teknologi

Pendekatan pertanian presisi membuat siswa mulai terbiasa menggunakan data dalam menentukan langkah budidaya. Mereka belajar membaca kondisi tanaman dan menyesuaikan kebutuhan pemupukan berdasarkan hasil pengamatan.

Laporan Lentera Today menyebut siswa juga mendapatkan pengalaman menggunakan teknologi seperti drone pertanian sebagai bagian dari pembelajaran pertanian presisi.

Selain bawang merah, siswa mengembangkan sejumlah komoditas lain, termasuk melon. Di SMK Negeri 1 Kademangan, budidaya melon di greenhouse menghasilkan tingkat kemanisan sekitar 15 °Brix.

Program serupa juga diterapkan di SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Para siswa di dua sekolah tersebut mengembangkan varietas melon dengan bobot sekitar 1,2 hingga 2 kilogram per buah dan tingkat kemanisan minimal 15 °Brix.

Baca Juga  Mahasiswa Berprestasi PGTC Pertamina Rasakan Pengalaman Berharga Menyaksikan MotoGP Mandalika

Lahan Sekolah Jadi Laboratorium

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan pendekatan pertanian modern diperlukan untuk mendekatkan sektor pertanian dengan karakter generasi muda.

Menurut Daconi, siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung agar pertanian tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budidaya konvensional, tetapi juga sebagai bidang yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis dan pengelolaan bisnis.

Dikutip Surabaya Pagi, Daconi menyebut program tersebut diarahkan untuk ikut menjawab tantangan regenerasi petani di Indonesia.

Dalam praktiknya, siswa terlibat dalam seluruh siklus kegiatan, mulai dari perencanaan budidaya, pengelolaan tanaman, pencatatan data, panen hingga memahami nilai ekonomi hasil pertanian.

Selain bawang merah dan melon, ketiga sekolah juga mengembangkan buncis dan kembang kol sebagai bagian dari rotasi tanam.

Membuka Perspektif Baru Generasi Muda

Kepala SMK Negeri 1 Kademangan Hadi Sucipto menilai praktik pertanian berbasis teknologi memberikan pengalaman berbeda kepada siswa.

Baca Juga  BPDP dan STP Bogor Launching Buku Kuliner Berbahan Sawit Untuk UMKM

Menurut dia, siswa tidak hanya mempelajari teknik budidaya, tetapi juga melihat langsung bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas serta membuka peluang usaha.

Program School Lab Farming merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV).

Program tersebut juga merupakan tindak lanjut kompetisi HARVESTION 2025 yang sebelumnya melibatkan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Pengenalan teknologi sejak sekolah diharapkan dapat memperluas pandangan generasi muda terhadap sektor pertanian. Dengan demikian, pertanian tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai bidang yang memiliki peluang karier dan usaha.

Bagi siswa, pengalaman mengelola lahan hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi menjadi kesempatan untuk memahami secara langsung hubungan antara teknologi, produktivitas dan bisnis pertanian.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *