JAKARTA — Kebutuhan listrik industri data center di Indonesia diproyeksikan meningkat hampir lima kali lipat dalam satu dekade. PT PLN (Persero) menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit dan pengembangan energi terbarukan untuk mengimbangi pertumbuhan pusat data, terutama seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berdasarkan proyeksi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kebutuhan listrik data center diperkirakan naik dari sekitar 1.098 megawatt (MW) pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026.
Kebutuhan tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai sekitar 5.226 MW pada 2034. Dari angka tersebut, sekitar 4.621 MW diperkirakan berada dalam sistem PLN dan 605 MW melalui PLN Batam.
Data tersebut dikutip Bisnis.com dalam pemberitaan mengenai kesiapan PLN menghadapi pertumbuhan industri data center di Indonesia.
Pusat Data Tumbuh Seiring Ekonomi Digital
Lonjakan kebutuhan listrik tersebut tidak terlepas dari semakin besarnya aktivitas ekonomi berbasis digital. Penggunaan layanan komputasi awan, aplikasi digital, penyimpanan data, hingga teknologi AI membutuhkan fasilitas pusat data dengan kapasitas komputasi dan konsumsi energi yang besar.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan mayoritas data center saat ini berada di sejumlah klaster strategis, seperti Cikarang, Karawang dan Jabodetabek.
Kawasan tersebut mendapatkan dukungan sistem kelistrikan Jawa-Bali. Menurut Gregorius, PLN bersama pemerintah telah menyiapkan ekspansi melalui RUPTL 2025–2034 serta pengembangan energi baru terbarukan untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi listrik.
PLN Targetkan Tambahan 69,5 GW
Dalam RUPTL 2025–2034, PLN menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW).
Sekitar 76 persen dari tambahan kapasitas tersebut berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan Battery Energy Storage System (BESS).
Pemerintah dan PLN juga mendorong percepatan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp).
Langkah tersebut menjadi penting karena industri data center tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga memerlukan pasokan yang stabil dan andal untuk menjaga operasional pusat data.
Bukan Hanya Soal Pembangkit
Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan peningkatan kapasitas pembangkit perlu diikuti penguatan infrastruktur kelistrikan lainnya.
Menurut Hendra, kebutuhan industri data center juga berkaitan dengan pengembangan jaringan transmisi, gardu induk, redundansi jaringan serta akses terhadap sumber energi terbarukan.
Hal tersebut menjadi tantangan karena pembangunan pusat data berlangsung dengan cepat. Ketersediaan listrik dan infrastruktur pendukung harus disiapkan sebelum kebutuhan mencapai kapasitas maksimal.
Bisnis.com juga menyoroti perkembangan di Malaysia sebagai gambaran persaingan kawasan. Johor tercatat memiliki sekitar 1.110 MW kapasitas data center operasional pada semester I 2026, dengan 602 MW dalam tahap konstruksi dan sekitar 3.088 MW dalam pipeline pembangunan.
AI Dorong Kebutuhan Energi
Pertumbuhan teknologi AI menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan konsumsi listrik pusat data.
Sistem AI membutuhkan kapasitas komputasi yang lebih besar dibandingkan sejumlah layanan digital konvensional. Pertumbuhan penggunaan AI untuk bisnis, layanan publik, industri hingga aplikasi konsumen pada akhirnya meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi.
Kementerian ESDM sebelumnya juga menyebut pengembangan PLTS 100 GW menjadi salah satu langkah untuk merespons pertumbuhan kebutuhan listrik sektor digital, termasuk data center.
Dalam pemberitaan Liputan6, pemerintah menyebut sektor data center diperkirakan tumbuh pesat di kawasan ASEAN sehingga kebutuhan energi menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi digital.
Tantangan bagi Indonesia
Pertumbuhan data center membuka peluang investasi dan pengembangan ekonomi digital, tetapi sekaligus menuntut kesiapan infrastruktur.
Pasokan listrik yang tidak memadai dapat menjadi hambatan bagi investor yang membutuhkan kepastian energi dalam jangka panjang. Karena itu, pengembangan pembangkit perlu berjalan beriringan dengan jaringan transmisi, gardu induk, konektivitas dan sumber energi yang lebih rendah emisi.
Bagi masyarakat, ekspansi data center juga berpotensi memberikan dampak tidak langsung melalui tumbuhnya layanan digital, investasi infrastruktur, lapangan kerja dan kebutuhan tenaga profesional di bidang teknologi.
Namun, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan energi yang mampu menjaga keandalan pasokan sekaligus mendukung target transisi energi.
Dengan proyeksi kebutuhan listrik data center yang mencapai lebih dari 5.000 MW pada 2034, kesiapan sistem kelistrikan akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan seberapa cepat Indonesia dapat memanfaatkan pertumbuhan ekonomi digital dan teknologi AI.(*)





