IMI Ingatkan Risiko Oversupply Alumina, Industri Hilir Aluminium Perlu Diperkuat

oleh
Aktivitas pekerja di pabrik aluminium milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018)./JIBI-Endang Muchtar
Aktivitas pekerja di pabrik aluminium milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018)./JIBI-Endang Muchtar

JAKARTA – Ekspansi pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Indonesia berpotensi memunculkan kelebihan pasokan apabila tidak diimbangi peningkatan kapasitas industri aluminium dan pengembangan pasar pengguna di dalam negeri.

Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif memperkirakan Indonesia berpotensi mengalami oversupply alumina seiring bertambahnya fasilitas pengolahan bauksit, terutama proyek-proyek berskala besar di Kalimantan Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan Irwandy dalam kegiatan Coffee Morning Special bertajuk “2 Tahun Prabowo: Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?” di Jakarta, 28 Oktober 2026.

Menurut Irwandy, peningkatan kapasitas pengolahan bauksit menjadi alumina berpotensi melampaui kemampuan penyerapan industri aluminium nasional. Proyeksi itu muncul ketika Indonesia juga sedang mendorong pembangunan fasilitas peleburan aluminium baru.

   

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berencana meningkatkan kapasitas produksi aluminium menjadi 600 ribu ton per tahun. Selain itu, proyek aluminium di Kalimantan Utara diproyeksikan menambah kapasitas sekitar 500 ribu ton.

Baca Juga  Minyak Jelantah Jadi Biofuel: Pertamina Patra Niaga Hadirkan Green Movement UCO

Meski kapasitas produksi aluminium direncanakan bertambah, kebutuhan domestik masih belum sepenuhnya terpenuhi. CNBC Indonesia melaporkan kebutuhan aluminium nasional mencapai sekitar 1,2 juta ton, sementara produksi Inalum saat ini sekitar 300 ribu ton.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa potensi kelebihan alumina tidak otomatis berarti Indonesia telah memiliki pasokan aluminium yang cukup. Alumina masih harus diproses melalui fasilitas peleburan sebelum menjadi aluminium yang dapat digunakan industri manufaktur.

Ekspansi Smelter Perlu Diikuti Industri Pengguna

Risiko ketidakseimbangan kapasitas juga menjadi perhatian industri. Bisnis Indonesia pada 27 Oktober 2026 melaporkan terdapat lima smelter alumina dengan kapasitas terpasang sekitar 9 juta ton. Jika seluruh proyek yang direncanakan beroperasi, kapasitas potensial dapat meningkat hingga 29,8 juta ton.

Baca Juga  Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Terus Tingkatkan Kapasitas Produksi Kilang

Pada sektor aluminium, kapasitas smelter primer yang saat ini sekitar 1,12 juta ton diperkirakan meningkat menjadi 1,97 juta ton pada 2026. Sejumlah proyek tambahan bahkan berpotensi membawa kapasitas produksi jauh lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengingatkan ekspansi industri harus memperhatikan keseimbangan antara pasokan, kebutuhan pasar, dan perkembangan permintaan global. Ia menilai kelebihan pasokan yang tidak terkendali berisiko menekan harga alumina maupun aluminium.

Sementara itu, Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menilai pengembangan industri hilir aluminium perlu diarahkan pada sektor manufaktur yang memiliki potensi permintaan besar, antara lain otomotif, kendaraan listrik, kelistrikan, konstruksi, dan industri pengolahan.

Baca Juga  Jelang Nataru 2024/2025, Pertamina Pastikan Kebutuhan Energi Nasional Aman

Penguatan industri pengguna dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menghasilkan alumina atau aluminium primer, tetapi juga mampu mengembangkan produk bernilai tambah yang terserap pasar domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia Ronald Sulistyanto mengingatkan ekspansi smelter perlu memperhitungkan keberlanjutan cadangan bauksit. Menurutnya, peningkatan kapasitas pengolahan yang terlalu agresif berpotensi menimbulkan tekanan terhadap cadangan mineral dan lingkungan.

Dengan demikian, pengembangan industri aluminium nasional membutuhkan perencanaan terintegrasi dari pertambangan bauksit, produksi alumina, peleburan aluminium, hingga manufaktur produk akhir. Pertumbuhan kapasitas produksi perlu diselaraskan dengan kebutuhan pasar dan ketersediaan bahan baku agar hilirisasi memberikan nilai tambah secara berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *