JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membantah proyeksi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang menyebut Indonesia akan mengalami defisit gas bumi dalam satu dekade mendatang.
Ia menegaskan bahwa proyeksi terkait ketersediaan gas merupakan kewenangan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kementerian ESDM.
“Yang menangani tentang potensi gas itu adalah SKK Migas dan Kementerian ESDM. Kalau PGN itu kan menerima hasilnya,” ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Menurut Bahlil, kunjungannya ke salah satu infrastruktur energi di Kalimantan Timur pada Rabu (30/4/2025) menunjukkan bahwa produksi gas nasional atau lifting justru mengalami peningkatan.
“Penambahnya dari ENI, kemudian dari Mubadala, dan dari beberapa sumur-sumur yang ada,” katanya.
Salah satu contohnya adalah perusahaan asal Italia, ENI, yang diproyeksikan mulai onstream pada 2028. ENI diperkirakan akan memproduksi sekitar 1.500 juta kaki kubik gas (MMscfd) dan 90 ribu barel kondensat per hari.
ENI berperan penting dalam menghubungkan produksi gas lepas pantai dari FPU Jangkrik ke titik serah di Senipah dan kilang LNG Bontang, sehingga pasokan migas dapat segera diproses untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Sementara itu, Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko, sebelumnya menyampaikan bahwa ketidakseimbangan pasokan gas nasional diperkirakan terjadi pada periode 2025–2035.
Ia mengungkapkan bahwa defisit pasokan gas, khususnya di wilayah Sumatera bagian selatan hingga Jawa Barat, telah terjadi sejak 2024 dengan defisit mencapai 177 MMscfd. Jumlah ini diprediksi meningkat hingga mencapai 513 MMscfdpada 2035.
“Profil gas balance PGN periode 2025 sampai 2035 mengalami tren penurunan. Di sini yang akan sedikit lebih mengkhawatirkan di mana sejak 2025 short dari gas balance kita, dari 2025 sampai ke 2035 itu shortage-nya semakin membesar sampai minus 513 [MMscfd],” ujar Arief dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Senin (28/4/2025).
Ia menambahkan, di Sumatera bagian utara, defisit pasokan gas diperkirakan mulai terjadi sejak 2028 hingga 2035.
“Kalau kita lihat dari 2025 sampai 2035 cenderung short gas di Sumatera bagian utara dan tengah ini turun sejak 2028. Jadi kalau kita lihat sejak 2028 ke 2035 shortage sampai ke 96 MMscfd,” tutupnya.(*)

