Politisi PKS: Sebaiknya Tjahjo Mundur Jika Tak Cepat Selesaikan Masalah KTP Elektronik Tercecer

oleh


10AB0CCA F592 4F06 81B6 FF82A02EA653
Sebuah karung berisi ribuan KTP elektronik (e-KTP) ditemukan berceceran di area persawahan di Jalan Karya Bakti III, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (8/12/2018). – Dokumentasi RW 011 via Kompas.com

URBANNEWS.ID – Peristiwa tercecernya ribuan e-KTP di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur beberapa waktu lalu membuat sejumlah politisi angkat bicara.

Direktur Pencapresan DPP PKS, Suhud Alynudin, mengatakan kasus ini pernah terjadi sebelumnya, sehingga ketika berulang sudah tentu menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai pihak. 

Terlebih, ribuan e-KTP tersebut tidak hanya berpotensi disalahgunakan dalam pemilu. Melainkan juga menyangkut keamanan negara. Oleh karena itu, meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas hal tersebut.

   
Baca Juga  Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Sebut Potensi Kerugian dari Smelter Tembaga Gresik, CERI Layangkan Surat Terbuka Berisi Menohok

Ini kejadian sudah kesekian lainnya. Jelas mengkhawatirkan dan harus diusut tuntas. Karena hal ini tidak hanya menyangkut potensi kecurangan dalam pemilu, tapi juga menyangkut keamanan negara,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/12/2018).

Ia menambahkan, patut dipertanyakan bahwa e-KTP yang kedaluwarsa dibuang sembarangan. Sehingga tindakan itu menunjukkan adanya keteledoran yang bisa saja berujung pada penyalahgunaan. Selain itu, menyesalkan adanya praktik jual beli blangko KTP-el beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Jalani Sidang Perdana, Gus Nur: Gak Ada Persiapan Apa-apa, Mboh Iki Sidang Opo...

“Aneh jika alasan pembuangan e-KTP tak terpakai dilakukan secara sembarangan. Itu jelas tidak profesional. Di samping itu, ada praktik jual beli blangko e-KTP yang rentan digunakan para penyusup yang bertujuan merusak negara,” jelasnya.

Menurutnya, praktik jual beli blangko e-KTP berpotensi memunculkan pemilih siluman dalam Pemilu Serentak 2019. Apalagi, saat ini masih terdapat data pemilih tambahan sebesar 31 juta dalam DPT. Ia lalu meminta DPR untuk memanggil Menteri Dalam Negeri terkait persoalan tersebut.

Baca Juga  RS Harapan Kita Putus Aliran Listrik dan Air Bersih ke Wisma Fits, Keluarga Pasien Jadi Korban

“DPR harus memanggil Mendagri dan meminta penjelasan secara terang benderang, karena hal ini berpotensi memicu kegaduhan di tahun politik,” katanya.

“Jika Mendagri tidak bisa menyelesaikan masalah ini dalam waktu cepat, lebih baik dia mundur,” lanjutnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *