Soal Pengiriman Peralatan Produksi Freeport ke Benua Amerika, Pengamat: Kontrak Karya Perintahkan Mesti Ditawarkan Dulu ke Pemerintah Indonesia

oleh
Pertambangan Grasberg PT Freeport (ilustrasi).foto/antara

URBANNEWS.ID – Kabar adanya pemindahan peralatan produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Benua Amerika sejak tahun 2018 silam, menuai reaksi para pakar dan pengamat energi dan pertambangan tanah air. Menurut Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), kabar itu membuat ia sontak terkejut.

“Pinter sekali dan cerdas Freeport McMoran mengakali kita, aset itu dia jual terlebih dahulu sebelum divestasi dilakukan, sehingga hasil jualnya tidak bisa dinikmati oleh PT Inalum, yang akan dinikmati Inalum adalah menanggung dosa kerusakan lingkungan 51,2% dari nilai temuan BPK sekitar Rp 185 Triliun,” ungkap Yusri Usman kepada urbannews.id, Sabtu (23/2/2019).

Dibeberkan Yusri, pada Pasal 22 Kontrak Karya PTFI dengan Pemerintah Indoneisa, dikatakan dengan sangat jelas bahwa setiap aset yang akan dijual, maka PTFI harus menawarkan ke Pemerintah Indonesia terlebih dahulu. “Kalau kita tidak mau membeli, maka aset itu boleh dijual ke pihak lainnya. Pertanyaan sekarang, adakah proses penawaran itu dilakukan oleh PTFI ke Pemerintah?,” ujar Yusri.

Sementara itu, dilansir dari detik.com, PT Freeport Indonesia sejak 2018 mulai mengirim peralatan tambang ke sejumlah perusahaan pertambangan di luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Selatan dan Amerika Utara. Hal ini dilakukan karena akan berakhirnya masa penambangan Grasberg Open Pit Tembagapura, Mimika, Papua.

   

Juru Bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan dengan akan berakhirnya operasi penambangan Grasberg Open Pit maka sejumlah peralatan tambang terbuka seperti truk tambang berkapasitas besar (haul truck) itu keberadaannya sudah tidak efektif, sebab Freeport kini berkonsentrasi pada pengembangan operasi tambang bawah tanah (underground mining).

“Saya dengar memang ada pengiriman ‘haul truck’ itu. Grasberg ini memang sebentar lagi akan selesai masanya. Sekarang memang masih berproduksi tapi sudah tahap final atau hampir selesai,” kata Riza dikutip dari Antara di Timika, Papua.

Manajer Ekspor Impor PT Freeport Indonesia Edwin Kailola mengatakan pada Desember 2018 pihaknya mengirim sebanyak 60 unit truk tambang Komatsu tipe 930 ke tambang di Peru, Amerika Selatan.

Tahun ini Freeport berencana mengirim beberapa truk tambang lainnya ke sejumlah perusahaan pertambangan di wilayah Amerika Utara.

“Kami akan sibuk dengan pengiriman beberapa peralatan tambang ke luar negeri,” kata Edwin saat pertemuan dengan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Khusus Papua Akhmad Rofiq di Timika, pekan lalu.(detik.com/hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *