
URBANNEWS.ID – Soal PT Krakatau Steel yang merugi, bekas Menteri Koordinator Bidang Kemaritimian Rizal Ramli menyarankan pemerintah mesti berani melaksanakan kebijakan anti dumping dengan menerapkan bea masuk 25 persen terhadap baja dan turunannya.
Kebijakan yang telah diusulkan kepada Presiden Joko Widodo tahun lalu itu diyakini bisa membuat PT Krakatau Steel untung lagi lantaran produksi baja dalam negeri naik.
Menurut Rizal, dengan pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dalam satu periode ke belakang, semestinya penjualan Krakatau Steel naik.
“Tapi, yang naik malah justru impor baja dari Cina, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah, tidak aneh Krakatau Steel merugi,” ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 4 Juli 2019.
Padahal, tutur Rizal, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengatasi kondisi ekonomi yang buruk adalah dengan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan impor.
Karena itu, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu menyoroti sikap pemerintah yang hanya berani dan fokus pada upaya pengurangan impor terhadap komoditi kecil seperti tasbih, bedak, dan lipstik.
Ketimbang itu, ia menyarankan pemerintah memfokuskan pada sepuluh komoditas impor terbesar, misalnya baja dari Cina dan mobil dari Jepang.
Pada awal Oktober 2018 lalu, Rizal menyebut bahwa baja 67 persen berasal dari impor dan dijual murah di Indonesia. Sehingga, industri baja dalam negeri seperti Krakatau Steel pun merugi.
“Restrukturisasi KS membuat utang sustainable tapi tidak tingkatkan sales, Harus berani kenakan tarif anti-dumping. Cina ekses kapasitas industri baja, berminat realokasi pabrik baja bekas ke RI, tapi malah diberi bebas pajak 30 tahun,” ujar Rizal.
Terkait Krakatau Steel, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno sebelumnya juga mengakui bahwa kondisi utang KRAS sangat berat sehingga tidak ada jalan lain selain melakukan restrukturisasi dengan melibatkan bank milik negara.
“Krakatau Steel memang sangat berat ya karena permasalahannya banyak yang sudah lama,” ujar Rini, dilansir cnbcibdonesia.com, Senin (8/4/2019) silam.
“Tapi kami yakin bahwa ini bisa turn around dan ini dengan sinergi BUMN sekarang sudah keliatan sudah semakin membaik,” jelas Rini kala itu.(hen/eramuslim.com/cnbcibdonesia.com)

