Baby Lobster (Kufur Nikmat karena Bahlul Sumberdaya)

oleh
Budi Santoso Direktur Center of Indonesian Resources Strategic Studies Cirrus
Budi Santoso, Direktur Center of Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss).

Oleh: Budi Santoso, CIRUSS

LOBSTER sudah menjadi simbol orang kaya dalam menikmati gaya hidup tentang makanan. Nilainya tinggi.

Pernyataan Menteri KKP sangat mengejutkan saya yang membuka lagi peluang ekspor benih lobster dengan dalih untuk menyelamatkan kegiatan usaha lobster Indonesia. Ini menunjukan mental pejabat yang hanya orientasi jangka pendek tidak layak untuk dipertahankan, bahkan saya setuju dengan Bu Susi layak ditenggelamkan. Kenapa?

Suatu saat saya sempat jalan-jalan ke kampung saya di Jember, hal yang sangat membanggakan tentang Jember ternyata pusat penelitian coklat dan kopi Indonesia ada di Jember, yang membuat saya lebih bangga lagi adalah pusat penelitian ini direspect oleh dunia dan terutama Asia. Tidak cuma di situ, kebanggaan saya bertambah ketika lembaga ini menemukan varietas kopi yang memiliki akar 10 kali lipat lebih banyak dibanding dengan kopi-kopi pada umumnya dan kalau distek akan dapat menghasilkan bunga dan panen yang berlipat. Selain itu, kopi ini juga dapat dipakai untuk menjaga kestabilan tanah di lereng-lereng.

   

Negara tetangga (Vietnam dan Thailand) yang mengerti ini berkali-kali meminta benih ini dan ditukar dengan varietas lain, pusat penelitian kopi dan coklat tidak pernah mau memberikan (walau masih memungkinkan untuk dicuri) tetapi tetap tidak diberikan karena alasan “kebanggaan dan keunggulan kopi Indonesia sehingga kita dapat bersaing dengan bangsa lain”.

Baca Juga  Serukan Hapus Perpres Uang Muka Fasilitas Pribadi untuk Pejabat Negara, Alaska: Tidak Ada Manfaat Bagi Rakyat

Bibit adalah salah satu keunggulan komparatif dan “resep rahasia” untuk suatu produk. Coca cola tidak pernah menjual resepnya bahkan ketika memindahkan kantornya, pengawalannya terhadap dokumen resep tersebut seperti memindahkan brankas isi berton-ton emas.

Toyota dan hampir semua mobil tidak pernah memberikan “resep rahasia” tersebut kepada pesaingnya demikian juga industri-industri lain yang mengunggulkan penemuan “resep rahasia” sebagai produknya.

Keluguan atau ignorance (Kalau enggak mau disebut goblok) menjual bibit dan resep rahasia tersebut kepada negara lain atau pesaing di negeri ini tidak cuma terjadi berkaitan dengan kekayaan hewani tapi juga hayati dan bahkan data rahasia sumberdaya mineral strategis yang akhirnya bisa jatuh kepada bangsa lain atau swasta. Bahkan konon kelapa sawit yang sekarang menyebar ke seluruh dunia dan Malaysia sebagai pesaing nasional, bibitnya berasal dari Kebun Raya Bogor.

Dalam pengelolaan sumberdaya alam atau sumberdaya terbatas lainnya secara umum perlu dipahami prinsip-prinsip filosofinya, secara konsep terdiri dari tiga pilar, yaitu; Pertama, Inventarisasi, mengetahui apa yang dimiliki, manfaat, keunggulan dan tentunya kualitas dan kuantitas sehingga dapat dibuat strategi pemanfaatannya untuk negara dan rakyat. 

Baca Juga  YPMAK Serahkan Bantuan Penanganan Corona di Papua Senilai Rp 5 Miliar

Kedua, Pengusahaan. Setelah diketahui apa yang dimiliki, dibuatlah kebijakan untuk memberi manfaat ekonomi secara langsung atau tidak langsung, oleh negara, swasta dan bagaimana memaksimalkan nilai tambah dan efek gandanya. Seekor lobters harus bisa melibatkan banyak aspek ekonomi dan pelaku ekonomi. Satu gram mineral harus mampu membangkitkan ekonomi maupun efek ganda, lapangan kerja dan tentunya kesejahteraan rakyat.

Ketiga, Konservasi. Tidak ada sumberdaya yang tidak terbatas, diperlukan kebijakan bagaimana manfaatnya sebanyak-banyaknya, manfaatnya selama mungkin dari generasi ke generasi. Dan bahkan seharusnya memberi manfaat antar generasi semakin meningkat. 

Tiga konsep tersebut saling terkait dan terus menerus. 

Nilai tambah

Pak Jokowi selalu mengingatkan bahwa “nilai tambah” harus menjadi orientasi kebijakan pemerintah. Mineral dan batubara harus diolah lebih dahulu sehingga memberi manfaat nilai tambah dan efek ganda. Walau diperlukan capex yang besar. 

Baca Juga  Sambut Iven Solo Great Sale 2019, Produk Fashion Diskon Hingga 70 Persen di Solo Grand Mall

Menjual bibit lobters yang harga benurnya cuma 150-an ribu dan ketika jadi lobters harganya jadi jutaan tanpa upaya dan energi yang besar sangat berlawanan dengan kebijakan Pak Jokowi untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka manfaat sumberdaya nasional untuk ekonomi. Menjual bibit akan menyebabkan lobters Indonesia bisa kalah dan hilang, walau pernyataan dari Menteri KKP, induknya akan dikembalikan ke Indonesia sungguh sangat tidak bisa diterima dalam pikiran strategis maupun taktis dalam rangka melindungi kekayaan alam dan daya saing nasional.

Keluguan, ignorance dan kebodohan para pengambil kebijakan yang tidak memahami nilai strategis kekayaan alam nasional dan tidak mengerti bagaimana memaksimalkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, perlu mendapatkan kritik yang keras dan harus dilawan.

Atas keprihatinan terhadap kebijakan pengelolaan kekayaan alam (hewani, hayati dan mineral) yang terjadi di negeri ini maka saya perlu menutup dengan kata-kata: “Tidak ada alasan bangsa Indonesia ini miskin (kekayaannya alamnya melimpah) dan bodoh (alam menyediakan nutrisi yang bagus sejak lahir bagi otak) kecuali salah kelola (kekayaan alam dan otaknya).***

Palereman Luhur Gunung Salak, 8 Desember 2019