Persaingan Harga Tiket Pesawat

oleh
Ahmad Daryoko
Ahmad Daryoko.foto/ist

Oleh: Ahmad Daryoko, Koordinator INVEST

HARGA tiket pesawat dapat dipersaing kan! Mengapa? Begini, misal kita hari Senin mau ke Yogya sekitar pukul 11.00 WIB. Maka pada Senin, sekitar jam tersebut ada Garuda, Lion, Sriwijaya dan lainnya. Kalau kita ingin yang termurah, maka bisa dipilih mana yang termurah! Inilah riil kompetisi tiket pesawat itu!

   

Bagaimana dengan kompetisi listrik? Hal ini bisa kita nikmati manakala nanti di depan rumah kita di samping ada kabel hitam milik PLN DPT sekarang, juga ada kabel kuning milik JK, kabel merah milik Luhut, dan kabel abu-abu milik Adaro (kakak Meneg BUMN).

Sehingga rakyat bisa milih listrik termurah dari warna-warni kabel yang ada di depan rumah itu? Semua warna kabel itu mestinya terhubung ke pembangkit mereka masing-masing. Yang kabel merah kalau ditelusuri pasti pembangkitnya cat merah juga, dan seterusnya.

Nah seperti itulah persaingan atau kompetisi listrik yang sehat! Contohnya sudah ada di daerah Cikarang sekitar Cikarang Listrisindo. Pelanggan bisa pilih kabelnya PLN atau kabelnya Listrisindo?

Tapi sayangnya yang disebut kompetisi listrik secara umum saat ini tidak seperti yang terjadi di Cikarang itu!

Misal JK, Luhut, Adaro ikut kompetisi di PLN, maka pengertiannya mereka hanya memiliki pembangkit swasta atau IPP (Independent Power Producer) saja.

Misal JK memiliki beberapa pembangkit di Sulawesi seperti PLTA Malea, Poso dan lainnya. Luhut punya PLTU di Sumut. Adaro punya PLTU Batang 2000 MW Jateng (Majalah Tempo 14 Des 2020).

Sekali lagi yang mereka miliki hanya pembangkit-pembangkitnya saja! Arus listrik pembangkit-pembangkit itu setelah dibeli PLN kemudian masuk ke Transmisi PLN dan seterusnya sampai ke pelanggan ya melalui jaringan PLN!

Bahkan dalam kontrak jual beli stroom dengan PLN dicantumkan klausul TOP (Take Or Pay) yang intinya saat Pembangkit “tidur” maupun kerja, PLN harus beli minimal 70% strom pembangkit itu per harinya! Bisa muncul aturan seperti itu karena pengaruh kekuasaan!

Nah sekali lagi yang dimaksud kompetisi listrik ya cuma seperti itu, hanya di pembangkit saja, dan faktanya bukan kompetisi kalau seperti itu tetapi ‘Ngerampok!!

Kesimpulannya, tidak bisa dibanandingkan antara kompetisi tarif pesawat dengan listrik, karena tidak ‘Apple to Apple.’***

Bandung , 13 Januari 2020