URBANNEWS.ID – Harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina jenis Bio Solar per 1 Agustus 2020, tercatat senilai Rp 9.400 per liter. Demikian data salah satu harga BBM non subsidi yang dilansir kontan.co.id, Sabtu (1/8/202).
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman, Sabtu (1/8/2020) malam mengatakan harga tersebut berarti telah terjadi kenaikan dari Rp 5.150 per liter.
“Terimakasih Ahok, sebagai Komisaris Utama Pertamina telah berhasil menaikan harga eceran Biosolar dari Rp 5.150 perliter menjadi Rp 9. 400,- perliter,” ungkap Yusri.
Mengacu harga bio solar itu, menurut Yusri akan berpengaruh mengakibatkan lonjakan harga D100 yang baru akan diproduksi Pertamina.
“Sehingga kalau Pertamina serius memproduksi D100 atau green diesel secara komersial yang berasal dari bahan baku RBDPO yang harga jualnya Rp 12.000 per kg, maka harga keekonomian D100 Pertamina bisa mencapai Rp 18.000 perliter dijual di SPBU,” tandas Yusri.
Hal tersebut menurut Yusri lantaran harus ditambah biaya beli katalis merah putih, biaya pengolahan, pajak BBN dan biaya distribusi serta margin usaha.
“Kalau itu terjadi, D100 Pertamina bisa mencatat rekor bahan bakar nabati (BBN) termahal di dunia,” kata Yusri.
Lebih lanjut dikatakan Yusri, kalau selisih harga jual Rp 100 per liter dari Dexlite, tentu konsumen lebih memilih menggunakan Dexlite ketimbang Biosolar yang Cetana Number rendah dan konsumen harus sering mencuci filter karena kandungan air di dalam FAME.
“Harga eceran Biosolar mendadak naik meroket sekitar 82,5% oleh Pertamina kemungkinan akibat pemerintah tak punya duit untuk melakukan subsidi tetap Rp 2000 per liter untuk Biosolar,” lanjut Yusri.
Sementara itu, dilansir kontan.co.id Sabtu (1/8/2020), berikut harga BBM non subdisi untuk wilayah Jabodetabek dan sekitarnya;
Pertamina:
Pertalite: Rp 7.650
Pertamax: Rp 9.000
Pertamax Turbo: Rp 9.850
Bio Solar: Rp 9.400
Dexlite: Rp 9.500
Dex: Rp 10.200
Total:
Performance 90: Rp 9.075 Performance 92: Rp 9.125 Performance 95: Rp 9.650 Performance Diesel: Rp 9.850
Shell:
Reguler: Rp 9.075
Super: Rp 9.125
V-Power: Rp 9.650
Diesel: Rp 9.850
Vivo:
Revvo 95: Rp 9.650
Revvo 92: Rp 9.125
Revvo 90: Rp 9.075
Revvo 89: Rp 7.190
BP-AKR:
BP 90: Rp 9.075
BP 92: Rp 9.125
BP 95: Rp 9.650.
Pertamina tambah bingung, ITB juga bingung
Menurut CEO Founder Oleochemical, Riza Mutyara pada 22 Juli 2020 lalu, RBDPO sudah produk jadi atau minyak goreng dengan lemak atau stearine 17%.
“Kalau di Arab dan India sudah dipakai langsung untuk masak kebuli atau briani,” kata Riza.
Dikatakan Riza, RBDPO yang dibeli dari pabrik minyak goreng oleh Pertamina akan dikenakan PPN 10%, dan tentu untuk dijadikan bahan baku D100, menjadi mahal sekali.
“Pertanyaannya, kenapa sekelas ITB menciptakan katalis untuk mengubah makanan atau RBDPO ke D100, kalau dipasarkan harus subsidi. Seharusnya, ITB menciptakan sesuatu yang bisa mengubah bahan atau limbah murah yang mengandung carbon, tandan buah segar, sampah, kayu, batu bara lowrank, limbah pabrik kelapa sawit, plastik bekas, minyak goreng bekas, ban bekas, sampah dan lainnya menjadi D100,” ulas Riza.
“Supaya TBS tidak lagi dikenakan PPN, lingkungan terjaga dari limbah plastik dan sampah di sungai dan laut jadi biru,” ungkap Riza.(hen/kontan.co.id)

