Sesudah Jokowi Tumbang: Resolusi Jihad… (Bagian-4)

oleh

Belum lama sesudah Kemerdekaan diproklamirkan, Tentara Sekutu menolak kemerdekaan Republik Indonesia dan mengancam agar kedaulatan Hindia Belanda diserahterimakan kepada Sekutu yang menang Perang Dunia II.

Soekarno-Hatta gamang membayangkan bakal kalah perang melawan Sekutu. Maka atas saran Panglima Soedirman, Soekarno-Hatta mengirim utusan kepada Kyai Hasyim Asy’ari, Ketua Nahdhatul Ulama, menanyakan apa hukumnya berjihad membela Negara dalam sebuah Negara bukan Islam seperti Indonesia.

   

Kyai Asy’ari mengundang para Ulama dan Pimpinan NU seJawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya, termasuk Kyai Wahab Hasbullah dari Jombang dan Kyai Abbas dari Buntet, Cirebon. Mereka diminta untuk memohon Petunjuk dari Allah SWT.

Esok harinya, 22 Oktober 1945 terbitlah Maklumat para Ulama NU tersebut yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Jihad dengan harta dan nyawa sebagai solusi untuk membela Negara, mempertahankan Kemerdekaan dengan melawan musuh yang akan menjajah kembali Republik Indonesia:

  1. Setiap Muslim, tua dan muda, serta miskin sekalipun, berwajib memerangi orang-orang Kafir yang menghalangi Kemerdekaan Indonesia.
  2. Pejuang yang tewas dalam membela Kemerdekaan dianggap sebagai Syuhada.
  3. Warga yang memihak penjajah dianggap memecah-belah persatuan dan karena itu wajib dihukum mati.

Resolusi Jihad tersebut disebarluaskan, sehingga ribuan Santri, mereka yang tergabung dalam Laskar-laskar Islam, seperti Hisbullah dan Sabilillah dan lain-lain, tentara pemuda, tentara pelajar dan tentara keamanan rakyat, semua berkumpul datang ke Surabaya. Ketika Tentara Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mallaby dari Inggris mendarat di Surabaya terjadilah pertempuran hebat selama tiga hari pada 27-29 Oktober 1945.

Tentara Inggris kewalahan melawan Arek-arek Suroboyo, sehingga meminta Gencatan Senjata mulai 30 Oktober. Akan tetapi terjadi insiden di Jembatan Merah yang menewaskan Mallaby. Tentara Sekutu marah dan mengancam akan membumi hangus Surabaya kalau tidak menyerahkan senjata-senjata hasil rampasannya dari Jepang paling lambat pada 10 November.

Mallaby digantikan Jenderal Robert Mansergh. Pemuda Soetomo muncul dengan menyebarkan Resolusi Jihad lewat radio. Soetomo pun terkenal dengan teriakannya “Merdeka” serta “Allahu Akbar” yang terus menggema dalam pertempuran.

Perang Kemerdekaan 10 November pun tidak bisa dielakkan. Mendengar teriakan Allahu Akbar yang bertalu-talu itu, para Tentara Gurkha yang bertubuh besar asal Dataran Tinggi Pakistan yang dikerahkan Inggris itu pun mundur… Robert Mansergh tewas, sekalipun ribuan Laskar Jihad juga mati sahid. Tetapi tentara Sekutu pun akhirnya mundur dari Medan Perang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *