“Istilah kerennya corporate secretary, bekerjasama dengan media mainstream untuk bertindak sebagai influencer. Hanya memberitakan yang bagus-bagus saja dan memblokir berita negatif soal penyimpangan yang terjadi. Sehingga kesan di publik sangat bagus kinerja Direksi Pertamina hasil make up media influencer. Artinya media ikut andil menutup borok ini. Tak lain semua itu hanya karena kepentingan dapat imbalan dalam bentuk iklan atau kegiatan seminar dan lain-lainnya,” ulas Yusri.
Sebagai bukti, kata Yusri, kurun Agustus hingga September 2020 saja, CERI menemukan sedikitnya empat rilis media yang berasal dari humas perusahaan yang judul berita dan kontennya terkesan sangat menyesatkan publik.
Pertama, kata Yusri, rilis dengan judul Sukses Produk D100 Green Diesel Kado Pertamina HUT RI ke 75. Kedua, rilis dengan judul Pertamina Ekspor Solar Euro 4 ke Malaysia senilai USD 9,5 miliar. Ketiga, rilis dengan judul Harga Pertalite Diturunkan Jadi Setara Premium Rp 6450 Perliter, serta rilis dengan judul Dorong Efisiensi, PGN Hemat Biaya Pipa Rokan Rp 2,1 Triliun.
“Tentang ulasan apa konten yang menyesatkan publik yang dirilis berita di berbagai media utama, akan kami buka ke publik secara berseri dalam minggu ini. Semua diulas berdasarkan kaidah keilmuan dan proses bisnis yang benar serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Yusri.(hen)

