Komunis Berkedok Kapitalis Masuk ke PLN Lewat Proyek FTP 10.000 MW

oleh -
PKLTU Pelabuhan Ratu. foto/antara/aditya pradana putra.

TAHUN 2006, tidak ada hujan tidak angin, tidak ada RUPTL kecuali susulan, PLN tiba-tiba membuat setting Fast Track Program (FTP) 10.000 MW yang merupakan ide dari Wapres JK. Ada sekitar 15 titik lokasi Proyek Pembangkit tersebut tersebar di sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa.

Semua Main Contractor adalah dari China. Justru karena penulis menjadi salah satu Pimpro dari proyek-proyek PLTU tersebut, maka akhirnya tahu kalau kontraktor-kontraktor China tersebut mendapat pembekalan ideologi komunis dan gemblengan fisik sebelum berangkat ke Indonesia.

Lewat bisik-bisik mereka mengaku bahwa di Indonesia iklimnya anti komunis, sehingga mereka diberikan pembekalan strategi pura-pura berkarakter kapitalis.

Gesture di atas terbongkar gara-gara saat Weekly Meeting, GM Kontraktor China, sebut saja MR Yang, terlihat frustasi saat pembahasan Analisa Mengenai Dampai Lingkungan (Amdal), dimana gubernur sudah setuju tetapi disanggah oleh bupati.

Dan tiba-tiba saja dalam sebuah meeting, MR Yang menginterupsi sambil berkata, “Mr. Daryoko please need a Communist Party , this party is very effective for driving your country.”

Akhirnya karena penasaran, selesai meeting yang bersangkutan penulis tanya. Dan terkonfirmasi bahwa RRC tetap berpegang teguh pada prinsip komunis, karena effektif untuk menggalang rakyat.

Mereka mengaku berpaham atheis karena Ketua Partai Komunis mereka, Jie Ping, dianggap sebagai tuhan dan tidak mengakui tuhan yang lain. Menurut MR Yang, inilah salah satu keberhasilan China bangkit menyaingi AS.

Artinya, konform bahwa RRC itu berpegang teguh atas prinsip komunis dan tenaga kerja asingnya mendapat doktrin kuat atas Ideologi komunis. Apalagi kemudian diketahui dari data-data kolonialisasi China terhadap Tibet dan negara-negara Afrika, bahwa RRC kemudian mengembangkan Jalur Sutera atau lebih dikenal sebagai One Belt One Road (OBOR), yaitu strategi untuk mengembalikan kejayaan China.

Kembali ke masalah Proyek 10.000 MW FTP I PLN. Semuanya dilaksanakan oleh Kontraktor China yang sebelumnya tidak memiliki Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Sebagaimana juga terjadi dengan Proyek Pembangkit 35.000 MW yang dilaunching awal Maret 2015 yang semuanya diindikasikan merupakan prakarsa JK saat menjadi Wapres Jokowi. Dan semua ternyata berakibat terjadinya over supply alias tidurnya pembangkit listrik sebesar 68% (Gatra 15 September 2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *