EKSISTENSI PLN riil hanya dapat dilihat dari riak-riak gerakan Serikat Pekerja termasuk anak-anak perusahaannya, serta dari laporan keuangan.
Pada 22 Juli 2020, Serikat Pekerja Gabungan PLN sebenarnya sudah melakukan protes lewat Seminar , karena mulai awal 2020 pembangkit PLN di Jawa-Bali hanya beroperasi sekitar 10 persen dari yang dibutuhkan. Sedang yang 70 persen sudah dikuasai Shenhua dan kawan-kawan yang berkolaborasi dengan JK, Luhut BP, Dahlan Iskan dan Erick Tohir.

Begitu juga jaringan ritail PLN. Sudah dijual oleh Dahlan Iskan saat yang bersangkutan sebagai Dirut PLN dan Meneg BUMN antara 2010-2014, dalam bentuk curah atau bulk atau hhole sale market ke Tommy Winata dan Taipan 9 Naga yang lain seperti SCBD dan lain-lain. Sedang yang recehan dalam bentuk Token ke mereka juga dan perusahaan-perusahaan Dahlan Iskan. Sehingga PLN di Jawa-Bali hanya menjadi penjaga tower Transmisi dan Distribusi saja.
Kondisi di atas hanya bisa dilihat dan dideteksi dari manuver Serikat Pekerja. Apapun judulnya! Gerakan terakhir dengan tema Holdingisasi, yaitu karena skenario pengalihan PLTP ke Pertamina.





