Softbank Pintar, Pejabat Kita Sebaliknya!

oleh
Augustinus Edy Kristianto. foto/jakartasatu.com

INVESTASI US$100 miliar di Ibu Kota Negara (IKN) itu cuma janji manis. Seharusnya sudah tahu dari dulu!

Lagipula duit US$100 miliar (kira-kira Rp1.430 triliun) itu duit apa? Itu bukan duit yang mau dikasih ke Indonesia seperti kata menko investasi. Asal tahu, itu duit yang terkumpul di Vision Fund (Venture Capital Softbank). Hasil keliling-keliling Masayoshi Son dan Rajeev Misra (CEO Vision Fund, bekas trader di Deutsche Bank) tahun 2016. 

US$45 miliarnya dari Mohammed bin Salman (Putra Mahkota Arab Saudi). Kenapa dikasih, karena Son menjanjikan keuntungan US$1 triliun kalau putra mahkota mau setor US$100 miliar. Akhirnya cuma dikasih segitu US$45 miliar itu. Sisanya saweran dari Apple, Qualcomm, Foxconn, Sharp, Mubadala (Abu Dhabi). Tahun 2017 Vision Fund US$100 miliar diluncurkan. Itu terbesar bagi sejarah Softbank.

Jadi mitra utama Vision Fund Softbank itu Arab Saudi!

Jangan dipikir Softbank itu akan kasih dana ke Indonesia sebagai investasi, lalu kita membayangkan pembangunan massif yang menyerap lapangan kerja. Bukan! Bisnis utama Softbank ini awalnya Bank of Software (distributor software). Selanjutnya menjadi usaha modal ventura yang menanamkan investasi di start-up. Misalnya, Yahoo Japan dan Alibaba (kini ikut diinvestigasi pemerintah China).

Tapi, sebenarnya bisnis utamanya adalah Storytelling. Jualan kecap sana-sini. 

Son memang jago pidato bin ngoceh. Visinya 300 tahun untuk masa depan. Kecerdasan buatan akan berkuasa. Siapa menguasai data, menguasai dunia. Makanya tak ada gunanya Softbank kasih ke IKN yang sarat kontroversi, risiko politik, ribet, belum lagi urusan dengan birokrasi yang makan waktu dan biaya. 

Buat apa susah-susah dapat profit dari IKN kalau dari Tokopedia saja bisa. Akhirnya dia investasi di situ. Namanya GoTo sekarang. Nanti mau cari uang dari IPO di bursa. Itu tujuannya. Sesuai dengan visinya: dapat profit, dapat data. Data manusia Indonesia dengan segala perilaku belanja dan segalanya yang ada di aplikasi. Big data!

Mungkin, saya pikir, Softbank ketawa-ketawa sambil menulis siaran pers pembatalan investasi IKN. Ya, iyalah! Tujuan sudah tercapai.

Pada 29 Juli 2019, Presiden Jokowi ketemu Son. Salah satu yang ikut Wishnutama Kusubandio. Waktu itu masih Komisaris Utama Net TV. Wishnutama diangkat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 23 Oktober 2019. Selang 37 hari kemudian didapuk jadi Komisaris Tokopedia. Suatu rangkap jabatan yang saya ulang-ulang sejak lama tapi tak pernah dihukum sesuai UU Kementerian. Lalu ia direshuffle. Lantas menjabat Komisaris Utama Telkomsel sejak Februari 2021.

Ya, cakep kalau begitu. Sebab, Telkomsel (anak usaha Telkom) yang mengucuri Rp6,4 triliun ke GoTo dalam wujud obligasi tanpa bunga. Ini juga hal yang sering saya ulang-ulang, karena di dalam GoTo terdapat nama kakak Menteri BUMN sebagai komisaris dan pemegang saham. Akta terakhir, si kakak itu pegang 1 miliaran lembar saham GoTo di harga Rp1/lembar. Jadi kalau nanti harga IPO GoTo Rp500/lembar, kekayaan kakak menjadi Rp500 miliar. Dugaan korupsi dan konflik kepentingan ini sudah saya laporkan ke KPK, tapi tidak ditindaklanjuti. Mungkin KPK sedang sibuk menghafal lagu Hymne KPK karangan istri ketuanya itu.

Kepemilikan Softbank di GoTo tercatat di laporan keuangan terakhirnya (per 31 Desember 2021). Bunyinya: “In the first quarter, SVF1 exchanged all of its shares in PT Tokopedia (“Tokopedia”) for shares in GoTo, a newly formed company as a result of merger between Tokopedia and PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. This share exchange is treated as a full exit (entire sale) from the investment and an acquisition of a new investment, with the sale price and acquisition cost being recorded in gross, respectively, and with the difference between the acquisition cost of shares initially held and sale price (acquisition cost of the exchanged shares) being recorded as realized gain and loss on the investments.”

Besar kemungkinan dugaan saya, Softbank menjanjikan investasi di IKN dengan segala tetek-bengek Smart City dan sebagainya (yang mana akhirnya Jokowi angkat Son sebagai Komite Pengarah IKN) supaya urusan GoTo lancar, tujuan utamanya.

Lucu nan pandir, kan?

Per 31 Desember 2021, Softbank loss (rugi) 551 miliar Yen (kira-kira Rp60-an triliun). Kerugian (unrealized) terbesar di saham T-Mobile dan Deutsche Telekom. Bagaimana mau kasih ke Indonesia kalau mereka pusing begitu. Belum lagi kalau putra mahkota Arab Saudi menagih janji US$1 triliun itu. Ya, beginilah bisnis kecap.

Yang kasihan rakyat Indonesia. Ada yang meninggal karena antre minyak goreng, sembako mahal, ditipu affiliator trading palsu, kejerat utang pinjol, nyangkut di suntik modal (sunmod), dikejar-kejar debt collector, PHK yang semakin banyak, geregatan lihat Crazy Rich (di mana putra bungsu Presiden juga ikut menjadi pengurus perusahaan hiburan yang rutin menayangkan konten flexing); yang kaya dari batu bara makin kaya, masih terima gaji dan fasilitas negara pula sebagai pejabat. Yang anaknya 10 orang terkaya pun masih digaji Rp51 juta/bulan sebagai staf khusus Presiden, yang kata Jokowi sendiri tugasnya sebagai teman diskusi. Mahal sekali bertemannya!

Harusnya, inilah saat yang tepat untuk masuk gorong-gorong lagi. Menyembunyikan muka, malu, melihat rakyat susah. 

Negara tidak bisa dipimpin model begini, oleh orang yang kualitasnya, ya begitulah. Tahu sendiri. Ini aneh dan menjengkelkan. 

Terakhir, Pemerintah Bengkulu diminta kirim air di tempat pengasingan Presiden Soekarno ke IKN. Lalu para gubernur diajak berkemah di situ. Sebagian besar gubernur tidak menginap.

Saya pun sadar mengapa Pemilu 2024 mau ditunda (mungkin dihilangkan sama sekali). Pantas. Sebab, bersama Presiden Jokowi, kita hendak membangun kerajaan. Buat apa ada pemilu! Salam.***

Augustinus Edy Kristianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.