Nostalgia Putra Pendiri Masjid Agung An Nur, Nasir Day: Tiap Sore Selama Bulan Puasa Saya Selalu Disuruh Bapak Mengantar Makanan untuk Imam Masjid

oleh
B5BBEF14 7429 4F72 BD1D A15357259DD2

PEKANBARU – “Waktu kecil, saya ingat sekali setiap sore selama bulan puasa saya disuruh bapak mengantarkan makan untuk imam Masjid Agung An Nur. Waktu itu saya pakai sepeda Relyh buatan Jerman. Waktu itu, Pekanbaru ini belum seperti sekarang.” 

Kalimat nostalgia itu meluncur begitu saja dari sosok seorang Nasir Day saat berada di halaman Masjid Agung An Nur Riau, Selasa (4/7/2023) siang. 

Putra dari Ulama Riau dan mantan Kepala Kantor Departemen Agama Provinsi Riau era 1959-1973, H Nurdin Abdul Jalil itu pun kemudian menceritakan bagaimana Masjid Agung An Nur di era tahun 60-an. 

Baca Juga  Bupati Rohil Apresiasi Perhatian Indomaret pada UMKM

“Kenangan saya dengan Masjid An Nur ini tak akan pernah saya lupakan. Waktu itu belum seperti sekarang. Posisinya pas di seberang Jalan Syech Burhanuddin, disambut Jalan Perwira. Di seberangnya baru Stadion Hang Tuah. Kala itu, kemana-mana di Pekanbaru ini keluar masuk hutan dan semak itu masih,” kenang Nasir. 

   

Nasir pun menceritakan, semasa ia kecil, nama Masjid Agung An Nur itu merupakan singkatan dari Arifin Achmad – Nurdin. 

“Bapak memang sangat dekat dengan Gubernur kala itu Almarhum Arifin Achmad. Hari-hari beliau ya di rumah Gubernur,” ungkap putra ulama Riau yang sehari-hari juga didaulat menyambut setiap kedatangan Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru. 

Baca Juga  Sekuriti Proyek RS Vertikal Riau dari PT Pembangunan Perumahan Intimidasi Mahasiswa Universitas Riau yang Sedang Praktikum

Nostalgia Nasir Day itu kemudian tiba-tiba terhenti kala melihat tak kunjung selesainya pemugaran masjid kebanggan masyarakat Riau itu. 

“Saya sudah berniat, apa pun yang terjadi, saya akan memastikan Masjid Agung An Nur ini kembali bisa digunakan oleh masyarakat luas sebagaimana sedia kala, dan bisa diresmikan oleh Gubernur Riau pemakaiannya sebagai hadiah untuk ulang tahun Provinsi Riau,” ungkap Nasir. 

Ia juga sudah mengetahui dan menyimak berbagai intrik hukum dan politik terkait pengerjaan perbaikan Masjid Agung An Nur itu. 

Baca Juga  Jalan Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar Dibuka Mulai 24 Desember 2023 Hingga 3 Januari 2023

“Bagi saya, proses hukum silahkan dilaksanakan dan dijalankan sesuai peraturan perundang undangan. Sebab negara kita adalah rechtsstaat, negara hukum. Tapi kalau ada yang akan menghalangi selesainya perbaikan masjid ini, saya tak bisa biarkan,” ungkap Nasir Day. 

Sambil berjalan santai meninggalkan kawasan Masjid Agung An Nur, ingatan Nasir pun lagi-lagi menarawang ke masa ketika Sang Ayah masih hidup dan selalu membawanya ke Masjid itu. Kini ia hanya berharap, legacy dari Sang Ayah itu, tak menjadi komoditi politik atau bahan olok-olok kepentingan sesaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *