SCG Dukung Pencapaian Target Pengelolaan Sampah Nasional

oleh
IMG 3299

JAKARTA – Pada tahun 2025, Indonesia terus mengambil langkah strategis dalam mengatasi timbulan sampah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai 56,63 juta ton pada tahun 2023.

Dari jumlah tersebut, baru sekitar 39,01 persen atau setara 22,09 juta ton yang berhasil dikelola secara layak.

Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Indonesia menetapkan target pengolahan sampah sebesar 51,2 persen pada tahun 2025, sebagai upaya menuju pencapaian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yakni pengelolaan 100 persen sampah pada tahun 2029.

   

Dalam RPJMN, pemerintah juga merumuskan berbagai kegiatan prioritas di sektor persampahan, dengan fokus pada dua aspek utama: Perubahan Perilaku dan Penguatan Tata Kelola Persampahan, serta Peningkatan Pengumpulan dan Pengolahan Sampah serta Pemrosesan Residu di TPA/LUR. 

SCG, melalui salah satu anak perusahaannya, PT Semen Jawa, kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung target nasional pengelolaan sampah melalui partisipasi pada acara ASEAN Solid Waste Congress 2025 Indonesia yang diselenggarakan pada 25 September 2025 di DoubleTree by Hilton Jakarta Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Pada kesempatan tersebut, perusahaan memaparkan berbagai inovasi pengelolaan sampah yang telah diterapkan. Salah satunya tercermin dalam pemanfaatan Alternative Fuel/Alternative Raw Material (AF/AR), sebuah terobosan yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif sekaligus substitusi bahan baku dalam produksi semen.

Inovasi terbaru AF/AR yang dikembangkan adalah teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, yang berfungsi mengolah Municipal Solid Waste (MSW) menjadi bahan bakar bernilai.

Peramas Wajananawat, President Director PT Semen Jawa & PT Tambang Semen Sukabumi, menegaskan, “SCG meyakini bahwa pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak positif terhadap perekonomian melalui efisiensi biaya, sekaligus mendorong terbentuknya sistem ekonomi sirkular.”(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *