JAKARTA – PT Timah Tbk terus mempersiapkan pengembangan proyek logam tanah jarang (rare earth element/REE) di kawasan Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Proyek tersebut menjadi bagian dari pengembangan hilirisasi mineral yang tengah disiapkan perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri.
Wakil Direktur Utama PT Timah, Harry Budi Sidharta, mengatakan perusahaan telah menyiapkan lahan seluas sekitar 40 hektare sebagai lokasi pengembangan proyek. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan media gathering di Jakarta, Selasa (29/7/2026).

Menurut Harry, kawasan tersebut akan dikembangkan secara bertahap sesuai dengan rencana proyek dan kesiapan infrastruktur pendukung. PT Timah juga telah memiliki fasilitas percontohan di Tanjung Ular yang akan dimanfaatkan sebagai bagian dari tahapan pengembangan logam tanah jarang.
Ia menjelaskan, proyek tersebut dirancang melalui kerja sama dengan mitra yang memiliki teknologi pengolahan logam tanah jarang. Dalam skema tersebut, PT Timah akan berperan sebagai penyedia bahan baku, sementara pembangunan serta pengoperasian fasilitas pengolahan dilakukan bersama mitra sesuai ketentuan yang disepakati.
Selain mempersiapkan lokasi, perusahaan juga melakukan pembahasan dengan sejumlah calon mitra untuk mendukung aspek teknologi dan pengembangan industri hilir. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek sekaligus mendukung pengembangan industri mineral strategis di Indonesia.
Logam tanah jarang merupakan kelompok mineral yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri, antara lain elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, perangkat telekomunikasi, hingga industri berteknologi tinggi. Pengembangan komoditas ini dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan nilai tambah hasil tambang melalui proses pengolahan di dalam negeri.
PT Timah menyatakan seluruh tahapan proyek akan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk pemenuhan aspek teknis, lingkungan, dan kerja sama dengan para pemangku kepentingan. Perusahaan juga akan melanjutkan proses pengembangan setelah seluruh persiapan dan kajian yang diperlukan selesai dilakukan.
Pengembangan proyek logam tanah jarang di Tanjung Ular diharapkan dapat mendukung program hilirisasi mineral nasional serta memperkuat pemanfaatan sumber daya mineral secara berkelanjutan.(bisnis.com)





