Demi Marwah NU, KPK Harus Usut Dugaan Politik Uang di Muktamar

oleh
702D6214 BE6D 42B8 8D3C C79D2FAA0058
Jajang Nurjaman. foto/ist

JAKARTA, URBANNEWS.ID – Center for Budget Analysis CBA meminta KPK turun tangan mengusut dugaan praktik politik uang dalam ajang muktamar Nahdlatul Ulama NU ke-34. KPK harus menyelidiki aktor utama serta sumber danannya darimana saja.

Demikian diungkapkan Koordinator CBA Jajang Nurjaman dalam keterangan tertulisnya kepada urbannews.id, Kamis (23/12/2021).

   

“Muktamar NU ke-34 terancam rusak marwahnya karena dugaan praktik politik uang. Diduga beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) ditawari Rp 50 juta, angka ini jika dikali dengan total suara sah sekitar 219 totalnya mencapai Rp25.950.000.000 perkiraan uang yang siap dibagi-bagikan oknum tim sukses di ajang muktamar,” ungkap Jajang.

Jika dugaan politik uang benar-benar terjadi, kata Jajang, muktamar NU tidak ada bedanya dengan pemilihan ketua umum partai politik, dimana jual beli suara lazim terjadi. 

Baca Juga  CBA Ungkap 14 Kasus dengan Temuan BPK Senilai Rp 42,9 Miliar di Pemkab Bogor

“Praktik politik uang sangat berbahaya karena bisa melahirkan pemimpin yang tidak berintegritas dan bahkan bisa merugikan keuangan negara,” ungkap Jajang.

Patut diduga, kata Jajang, dugaan praktik politik uang dalam muktamar NU ke-34 karena elite politik ikut bermain, dan ingin menang. 

“Mentang-mentang, sudah pada banyak duit, dan jadi pejabat, mereka mempengaruhi pengurus NU daerah dengan memberikan duit, dan lalu melakukan karantina seperti warga kena covid 19,” beber Jajang.

Jajang mengatakan, Pengurus dan tokoh NU harus sadar bahaya praktik politik uang dan jangan sampai tergoda dengan bujuk rayuan oknum tim sukses, atau politisi busuk.

“Jangan sampai muktamar NU ke-34 melahirkan pemimpin yang tidak berintegritas karena tidak siap kalah dan akhirnya menghalalkan segala cara,” kata Jajang.

Baca Juga  Ungkap Kejanggalan Proyek Satelit Bakti Kominfo, CBA Minta Kejagung Periksa Anang Achmad Latif

Menurut Jajang, akan menjadi aib bagi warga Nahdlatul Ulama jika pengurusnya tergoda uang haram dalam acara sakral. 

“Jangan sampai pengurus NU selesai muktamar dari Lampung dan pulang ke kampung masing-masing malah membawa aib dan aroma busuk karena menerima uang haram seperti korupsi uang kardus durian, yang sampai sekarang, bau kardus durian, tidak hilang-hilang lantaran penciuman umat sangat tajam tidak bisa diakalin,” tutup Jajang.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.