Sayonara My Ass…!!

oleh
27F5D69E 8663 498F 83A2 04691DF194EE
Zeng Wei Jian.foto/portal-islam.id

Oleh: Zeng Wei Jian 

SABTU 13 Juli 2019, Pa Prabowo dan Jokowi bertemu di MRT Lebak Bulus. Ngga di Istana Bogor dan Kediaman Hambalang. Sejajar dan Selevel. Saling hormat. 

Dari Pihak Jokowi, ada Pramono Anung dan Budi Gunawan. Sedangkan Edhi Prabowo dan Sekjen Ahmad Muzani dampingin Pa Prabowo. 

Medsos pecah. Lebih heboh dari wacana Poros III dirilis pertama kalinya. Saringan kedua terjadi secara natural. 

   

Faktanya Pendukung 02 itu tidak monolith. Ada 02 murni nasionalis sejati. Sebuah mozaik. Para Patriot. Orang-orang baik, ulama dan muslim cerdas. 

Mereka melted, Bercampur-baur ngga jelas dengan extrim kanan, simpatisan partai-partai, ass lickers, dan Poros III. 

Khusus Poros III, mereka punya kaki-tangan di Kubu 01 dan 02. Prabowo-Sandi serukan “Jangan main SARA dan tebar hoax”. Mereka tetap mainkan. Diciduk. Nangis. Merengek minta Pa Prabowo bantu bebaskan.

Prabowo-Sandi himbau “Jangan Aksi di MK”. Mereka tetap aksi. Terakhir, seratusan demonstran K4 adalah kelompok yang teridentifikasi turun aksi di MK. 

Poros III dapet pelor down grade Pa Prabowo dengan pertemuan hari ini. Mereka olah emosi irasional, caci-maki dan hujat-hujat. Mereka belum puas sebelum NKRI ter-“balkanisasi”. Dedel duwel. 

Mereka hasut massa. Fitnah Tokoh Partai Gerindra. Padahal, satu-satunya pihak yang paling berkepentingan Pa Prabowo jadi presiden ya Gerindra. 

Orang-orang ini salah satu faktor penting kekalahan 02 di Pilpres. 

Pa Prabowo hanya dijadikan kuda pacu dan Greyhound ride. Demi ambisi kekuasaan. Seandainya 02 menang, nantinya mereka akan menggulingkan Pa Prabowo. Agenda utama mereka bukan mendukung Prabowo-Sandi. Semata-mata karena Jokowi menjadi short term target. 

Esensi perjuangan Pa Prabowo adalah Adil-Makmur dan Kesejahteraan rakyat. Himpitan Super Power China dan Amerika butuh flexibilitas joe’ang dan kesabaran revolusioner.

Esensi Perjuangan itu Ngga pernah semata-mata menumbangkan Jokowi-Makruf. 

Manipulasi psikologi ditebar di Medsos. Gaduh. Berisik. Hujatan. Sayonara Prabowo. Padahal mereka ngga pernah bersama Pa Prabowo. 

Dunia nyata adem. Tentram. Menurut Fadli Zon, Rakyat punya logikanya sendiri. Realistis. Ngga mau diadu-adu dan perang.

Salah satu faktor Penyebab utama kegaduhan itu adalah arogansi. Merasa diri kuat dan melihat Jokowi lemah. Wrong…!! Jokowi sangat kuat. Ada klik Megawati, LBP, Wiranto, Hendro, Golkar, Cak Imin, PSI, Wapres Jeka, Surya Paloh, Perindo, Makruf Amin dan Yusril. 

Mereka kuasai alat perang, aparat hukum, media, uang, dan teknologi. 

Salah satu faktor 02 tumbang adalah mispersepsi terhadap diri dan rival. Sun Tsu berkata “If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles”.

Para free-rider yang menghujat Pa Prabowo hari ini tidak peduli nasib 400-an teman yang dipenjara akibat Kerusuhan 21-22 Mei, nasib para ulama yang masuk daftar tangkap dan tokoh-tokoh makar seperti Eggi Sujana dan Lieus Sungkharisma. 

Sepihnya tokoh koalisi 01 yang mendampingi Jokowi pagi tadi menyiratkan makna ada beberapa klik yang merasa terganggu. Gerindra masuk, Jatah mereka berkurang. 

Kekesalan serupa dirasakan oleh Partai Demokrat dan PAN yang menurut Penulis Tony Rosyid sudah merapat ke Jokowi sejak Quick Count diumumkan. 

Barisan Jokowi yang terganggu ini akan berkolaborasi dengan para penghujat Pa Prabowo dan Poros Ketiga. Menjadi sebuah komplotan taktis tersamar. Peta Konflik Cebong-Kampret lenyap. 

Menurut hemat saya, daripada satu pos menteri diberikan kepada Grace Natalie atau Tsamara Amini maka lebih baik dipegang oleh Fadli Zon.***