EKSLUSIF REPORTS!!! Baru Dibangun, Kondisi Rusun Senilai Puluhan Miliar di Aceh Timur Amburadul

oleh
25E3A89F 8C06 4B18 82FE 5B3B84812B49
Bangunan rumah susun untuk santri di Aceh Timur. Dibangun dengan anggaran puluhan miliar, kondisi bangunan itu kini amburadul.foto/ist

URBANNEWS.ID – Kondisi rumah susun (Rusun) di pondok pesantren Bustanul Huda, Desa Alue Cek Doi, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur memprihatinkan. Rusun ini dibangun Kementerian PUPR tahun 2016 dengan anggaran Rp 30 miliar lebih.

Bagian lantai keramik di bangunan itu tampak sudah retak-retak dan pecah. Sebagian keramik dinding di bawah jendela juga terlihat sudah rontok. 

Tak hanya itu, besi penutup saluran pembuangan di sekitar gedung terlihat berantakan dan mengelupas keluar dari fungsi sebagai penutup saluran air.

Kondisi sebagian dinding juga nampak sudah pecah. Sedangkan bagian profil interior juga sudah rusak. 

   

1D08390F 1A3B 42E5 B7B8 FC37344232DF

Menurut keterangan Ishak dari Pesantren Bustanul Huda, kondisi gedung sudah dalam keadaan rusak saat ditempati santri. Gedung itu baru ditempati oleh santri sekitar awal September 2019 ini.

“Saat kami tempati kondisinya sudah rusak. Awalnya tampak bagus. Tapi pengerjaannya enggak bagus,” kata Ishak kepada urbannews.id. 

Menurut Ishak, sebenarnya bangunan itu tidak layak untuk ditempati santri. “Sekarang ini gedung itu hanya bisa digunakan seadanya. Kami terpaksa menggunakannya karena kami membutuhkannya. Karena santri kekurangan asrama makanya kami pergunakan walau rusak,” ungkap Ishak. 

F082D497 6133 4D1F AF90 7B4D90F19EDB

Sementara itu diberitakan urbannews.id sebelumnya, Kementerian PUPR ternayata memenangkan perusahaan tanpa pengalaman kerja pada lelang pekerjaan pembangunan tumah susun Provinsi Aceh. 

Menurut penelusuran urbannews.id, pekerjaan itu bernilai sekitar Rp 1,9 miliar. Pelaksana lelang di Kementerian PUPR dengan kode 54551064 itu memenangkan CV Ingat Mati pada lelang itu. 

CV Ingat Mati ternyata menurut informasi dari LPJK, tidak pernah melakukan pekerjaan konstruksi apa pun. Bahkan, akte perusahaan itu dibuat Januari 2019.

BD955375 F9A7 4BF3 B6F4 8B28A9A4634D

Menurut keterangan diperoleh urbannews.id dari sumber dapat dipercaya, pelaksana lelang di Kementerian PUPR saat ini seluruhnya dilaksanakan Balai Pengadaan Barang dan Jasa Kementerian PUPR. 

Baca Juga  PW HIMMAH Riau Ingatkan Masyarakat Agar Tak Euforia Sambut Malam Pergantian Tahun

Balai teraebut ternyata berada di bawah kendali Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR. 

Direktorat Bina Konstruksi Kementerian PUPR saat ini tak lain dijabat oleh Syarif Burhanudin. 

Terkait temuan urbannews.id ini, baik Syarif Burhanudin maupun manajemen CV Ingat Mati belum menjawab konfirmasi yang dilayangkan urbannews.id.

Diberitakan sebelumnya, Mantan Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin memilih memblokir nomor kontak wartawan dibanding memberi keterangan mengenai proyek pembangunan Rusun santri pesantren di Aceh tahun 2016. Tindakan tersebut dilakukan Syarif ketika dikonfirmasi urbannews.id, Senin (9/9/2019) siang.

Awalnya urbannews.id menyampaikan pesan berisi poin-poin konfirmasi terkait proyek bermasalah itu kepada Syarif. Setelah pesan tersebut dibaca dengan status centang biru pada aplikasi whatsapp, beberapa menit kemudian foto profil Syarif tidak lagi muncul di aplikasi pesan. Menurut ketentuan penggunaan whatsapp, kondisi itu terjadi lantaran pengguna whatsapp memblokir nomor telepon lawan bicaranya.

5EBE71A7 1570 451D B330 275B39891AB8

Diberitakan sebelumnya, pejabat-pejabat tinggi di Kementerian PUPR bungkam soal proyek rumah susun (Rusun) santri pondok pesantren di Aceh yang bermasalah.

Mantan Inspektur Jenderal Kementerian PUPR Rildo A Anwar yang dikonfirmasi urbannews.id sejak Minggu (8/9/2019) hingga berita ini dilaporkan tak menjawab sepatah kata pun konfirmasi yang diajukan urbannews.id. 

Hal senada dilakukan Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin. Syarif merupakan Dirjen Penyiapan Perumahan pada waktu proyek Rusun santri itu dilaksanakan.

Setali tiga uang, Direktur Rusun Kementerian PUPR Tahun 2016, Kuawardhono juga mendadak membisu soal proyek ‘amburadul’ itu. Bahkan, Dirjen Perumahan Rakyat Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid juga tak memberikan keterangan apa pun.

Sementara itu, terkait proyek ini, Center of Energy and Rosources Indonesia (CERI) menyatakan telah menyerahkan data bukti lengkap dan laporan ke KPK RI.

Baca Juga  Jasa Tirta II Cs Berpotensi Jadi Parasit Bagi PLTA Milik PLN

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman kepada urbannews.id, Minggu (8/9/2019) di Medan mengungkapkan kinerja KPK patut dipertanyakan, karena laporan dugaan penyimpangan beberapa pembangunan rumah susun santri di berbagai pesantren di Aceh terkesan jalan di tempat. 

Pembangunan rumah susun ini dilaksanakan dengan APBN tahun anggaran 2016 oleh Direktorat Jendral Perumahan dan Pemukiman Kementerian PUPR. Proyek tersebut bermasalah sampai saat ini. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman saat itu masih dibawah kendali Syarif Burhanudin.

“Adapun rusun pesantren yang bermasalah pembangunan adalah pondok pesantren Al Madinatuddiniya Babusalam Peudada di Bireun, Ponpes Dayah Bustanul Huda di Julok dan STAIN Malikul Saleh di Loksumawe. Padahal sebelumnya, yaitu pada 28 Mei 2018 semua temuan lengkap hasil investigasi di obyek di semua lokasi pesantren itu oleh lembaga CERI secara resmi telah dilaporkan ke KPK, anehnya sampai dengan saat ini belum ada tindakan apapun terhadap oknum oknum yang terlibat,” ungkap Yusri. 

Tak disangka-sangka, lanjut Yusri, malah salah satu bekas pejabat daerah di Satker SNVT Aceh yang terlibat dalam proses pembangunan rusun pesantren di Aceh ini sudah dihukum dalam kasus lain, yaitu korupsi proyek SPAM  yang kena OTT KPK pada 29 Desember tahun 2018, karena saat kena OTT KPK itu dia sudah menjabat sebagai Kasatker SPAM darurat di Propinsi Lampung.

“Semua kerusakan atau ketidaksesuaian pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh KSO (Kerja Sama Operasi) PT Danapati Mulia dengan PT Kana Harapan Jaya saat itu telah lengkap bukti-buktinya diserahkan kepada KPK, dan pada peninjauan ulang kami terakhir pada Juni dan Juli 2019 semua kerusakan atau ketidaksesuaian penyelesian pekerjaan daripada bestek yang tertera dalam kontrak belum juga diperbaiki, sehingga kondisinya semakin memprihatinkan dan tak layak ditempati,” ujar Yusri.

Baca Juga  Harga BBM Tak Dikoreksi, Apakah Pertamina Mau Menghisap Darah Terakhir Rakyat?

Menurut Yusri, alangkah ruginya negara akibat perbuatan oknum-oknum tersebut. “Satu satu hal yang paling fatal adalah tidak ada suplai air terhadap rusun itu, sehingga hampir semua kamar mandi dan wc tidak dapat digunakan, semua santrinya harus jalan jauh untuk mandi dan buang air besar dan kecil,” ungkap Yusri.

Asal tau saja, kata Yusri lagi, sebelumnya pada sekitar bulan April 2018 semua temuan ini sudah iq laporkan juga langsung kepada Inspektorat Jenderal Kementerian PUPR, Rildho Anwar.

“Tetapi anehnya bukan ditindaklanjuti laporan kami, tetapi malah kami disuruh menghubungi Direktorat Jenderal Perumahan Rakyat,” katanya.

“Dugaan penyimpangan yang kami laporkan ke KPK ini semakin kuat dan benar setelah beredar undangan lelang LPSE  tertanggal 11 Juli 2019 (lpse.go.id nomor tender 54551064) untuk pekerjaan renovasi dua pondok pesantren tersebut  dan STAIN Malikul Saleh dengan anggaran sekitar Rp 1,9 miliar. Akan tetapi hasil peninjauan kami terakhir bulan Juli 2019 dengan melihat dari kerusakan yang ada akibat dulu tidak seacra benar dikerjakan oleh kontraktor yang kredibel, malah diperjual belikan kepada kontraktor yang tidak punya pengalaman dan tidak punya modal alias mengharap uang muka kerja, perkiraan kami butuh anggaran sekitar Rp 9 miliar untuk memulihkannya ketiga obyek rusun tersebut,” beber Yusri lagi.

Oleh karena itu, kata Yusri, KPK diharapkan tidak tebang pilih atau masuk angin terhadap dugaan perampokan keuangan negara di kementerian PUPR ini. “Karena sejak tiga tahun ini ada tokoh berinisial M merajai semua proyek pembangunan rusun di seluruh Indonesia dan ditemui banyak bermasalah,” ungkap Yusri.(hen)