JAKARTA — Rumah gadang yang berkaitan dengan sastrawan Minangkabau Aman Datuk Madjoindo di Desa Sirukam, Sumatera Barat, diusulkan menjadi museum sekaligus perpustakaan. Pemanfaatan bangunan tersebut diharapkan membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenal sejarah, sastra, dan budaya Minangkabau.
Dukungan terhadap rencana tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat bertemu Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo (YAMANDO) Boy Rafli Amar di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Fadli mengatakan rumah gadang tersebut dapat dikembangkan sebagai living heritage, sehingga tidak sekadar dipertahankan sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga digunakan untuk kegiatan pendidikan dan kebudayaan.
Menurut Fadli, Kementerian Kebudayaan dapat memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana serta pendampingan teknis. Unit Pelaksana Teknis (UPT) kementerian juga dapat dilibatkan untuk melakukan asesmen, pendataan aset, hingga membantu proses revitalisasi.
Jadi Ruang Literasi Masyarakat
Ketua YAMANDO Boy Rafli Amar mengatakan kondisi rumah gadang tersebut saat ini masih sederhana. Yayasan mendorong pemanfaatannya sebagai taman bacaan atau rumah budaya.
Ruang tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk menyimpan karya dan peninggalan Aman Datuk Madjoindo, tetapi juga menjadi tempat kegiatan literasi, pengenalan sastra, serta aktivitas budaya bagi masyarakat.
Boy Rafli menilai keberadaan ruang literasi di lingkungan masyarakat dapat membantu memperkenalkan karya sastrawan Nusantara kepada generasi muda dengan bahan bacaan yang sesuai usia.
Kenalkan Sastra Sejak Sekolah
Aman Datuk Madjoindo dikenal sebagai sastrawan Minang yang banyak menghasilkan karya sastra anak. Karena itu, rencana pengembangan rumah gadang tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengenalan sastra dan budaya kepada anak-anak.
Fadli mendorong unsur budaya lokal, termasuk kesusastraan, dapat menjadi bagian dari muatan lokal di sekolah. Dengan cara tersebut, generasi muda dapat mengenal warisan budaya daerah sejak dini.
Pengembangan rumah gadang sebagai museum dan perpustakaan juga dapat memperluas fungsi bangunan bersejarah. Selain menjadi tempat penyimpanan koleksi, bangunan tersebut dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat, pembelajaran, serta kegiatan kebudayaan.
Berpotensi Jadi Tujuan Wisata Budaya
Jika direalisasikan, rumah gadang Aman Datuk Madjoindo juga berpotensi menjadi bagian dari wisata budaya di Sumatera Barat.
Konsep tersebut memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat bangunan tradisional, tetapi juga mempelajari perjalanan seorang sastrawan Minangkabau, karya-karyanya, serta tradisi masyarakat setempat.
Pengalaman tersebut dapat mempertemukan fungsi pelestarian budaya dengan kebutuhan edukasi dan pariwisata berbasis masyarakat.
Pemerintah sebelumnya juga mendorong pemanfaatan sejumlah rumah dan bangunan bersejarah di Sumatera Barat sebagai ruang budaya. Pengembangan Rumah Tan Malaka, misalnya, diarahkan menjadi pusat budaya, wisata sejarah, dan ruang edukasi.
Rencana menjadikan rumah gadang Aman Datuk Madjoindo sebagai museum dan perpustakaan kini masih berada dalam tahap pengembangan. Pendataan aset, asesmen kondisi bangunan, serta penataan ruang menjadi bagian penting sebelum fungsi baru tersebut diwujudkan.
Jika terealisasi, rumah gadang itu diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang yang hidup untuk membaca, belajar, mengenal sastra, dan merawat kebudayaan Minangkabau.(*)





