Kampung Nelayan Tongke-Tongke Berubah, 554 Nelayan Dapat Fasilitas Terintegrasi

oleh
Kampung Nelayan Tongke-Tongke Berubah, 554 Nelayan Dapat Fasilitas Terintegrasi
Kampung Nelayan Tongke-Tongke Berubah, 554 Nelayan Dapat Fasilitas Terintegrasi

SINJAI — Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kini dilengkapi berbagai fasilitas untuk mendukung aktivitas nelayan dari hulu hingga hilir.

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari penataan kawasan, tetapi juga dari hadirnya fasilitas pendukung seperti cold storage, pabrik es balok, perbaikan dermaga, kios nelayan, sentra kuliner hingga bantuan armada perahu.

Kawasan tersebut dirancang untuk mendukung aktivitas 554 nelayan sekaligus memperkuat rantai usaha perikanan, mulai dari penangkapan, penanganan hasil tangkapan, penyimpanan hingga pemasaran.

Kehadiran fasilitas penyimpanan dan pengolahan membuat hasil tangkapan nelayan dapat ditangani lebih cepat. Ikan yang sebelumnya harus dibawa ke daerah lain untuk mendapatkan penanganan kini dapat diproses lebih dekat dengan lokasi pendaratan.

   

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat keberadaan Unit Pengolahan Ikan di kawasan KNMP membantu menjaga kualitas ikan. Sebelumnya, sebagian hasil tangkapan harus dibawa ke Makassar dengan waktu perjalanan sekitar empat hingga lima jam yang berisiko mengganggu rantai pendingin.

Baca Juga  Ketua DPD RI Sebut Penyuluh Berperan Penting Jaga Ketahanan Pangan

Kini, hasil tangkapan dapat ditangani di Tongke-Tongke sebelum dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan Surabaya.

Dampak terhadap aktivitas ekonomi nelayan juga mulai terlihat. Sebanyak 13 ton ikan tuna dari KNMP Tongke-Tongke telah dikirim ke Jakarta untuk dipasarkan lebih lanjut.

Selain fasilitas fisik, pemerintah juga mulai membangun sistem pengelolaan agar infrastruktur KNMP dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan KNMP Tongke-Tongke akan menjadi salah satu unit usaha yang dikelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Koperasi nantinya dapat berperan sebagai off-taker hasil tangkapan nelayan. Hasil tangkapan dapat diserap, dipasarkan melalui jaringan koperasi maupun dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.

Baca Juga  Kemnaker Larang Keras Diskriminasi Rekrutmen Tenaga Kerja

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan integrasi antara Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan KNMP diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun dapat dioptimalkan tanpa terjadi duplikasi pembangunan.

Menurut Ferry, nelayan yang bergabung dalam koperasi juga berpeluang mendapatkan akses pembiayaan dan modal kerja untuk mengembangkan usaha.

Namun, pengelolaan KNMP Tongke-Tongke masih menghadapi kebutuhan yang perlu diperkuat. Menteri Kelautan dan Perikanan menyoroti ketersediaan bahan bakar yang masih menjadi salah satu kendala bagi nelayan.

Pemerintah menyatakan persoalan tersebut akan menjadi perhatian untuk dicarikan solusi dalam jangka panjang.

Dari sisi tenaga kerja, operasional fasilitas KNMP juga telah menyerap masyarakat sekitar. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat sebanyak 17 tenaga kerja terlibat, terutama pada unit gudang beku dan pabrik es balok.

Baca Juga  Soal Dugaan Kecurangan Pemilu, Presiden: Semua Ada Mekanismenya

Pengelolaan KNMP kemudian diperkuat melalui kerja sama lintas kementerian. KKP menggandeng Kementerian Koperasi, Kementerian Keuangan dan Badan Pengaturan BUMN untuk memastikan infrastruktur yang tersedia dapat dikelola secara profesional dan memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan.

Bagi nelayan Tongke-Tongke, keberadaan fasilitas tersebut membuka perubahan pada rantai usaha perikanan. Hasil tangkapan tidak hanya diarahkan untuk segera dijual, tetapi juga dapat dijaga kualitasnya, disimpan, diolah dan dipasarkan melalui jaringan yang lebih luas.

Dengan fasilitas yang semakin terintegrasi, KNMP Tongke-Tongke diarahkan menjadi kawasan yang tidak hanya menyediakan tempat bagi nelayan untuk beraktivitas, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem usaha perikanan yang menghubungkan nelayan dengan pengolahan, koperasi dan pasar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *