
URBANNEWS.ID – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Surabaya beraudiensi dengan Ketua DPRD Jawa Timur, Senin (16/12/2019) lalu. Rombongan DEM Surabaya diterima Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi di Kantor DPRD Jawa Timur.
“Menyikapi kelangkaan BBM bersubsidi di beberapa daerah di Jawa Timur yang mengakibatkan antrian panjang di SPBU, DEM Surabaya sebagai penyambung lidah rakyat mencoba untuk menyampaikan keluh kesah yang dialami oleh masyarakat kepada Ketua DPRD Jawa Timur,” kata Ketua DEM Surabaya, M Fahmy Asari kepada urbannews.id, Kamis (26/12/2019).
Dikatakan Fahmy, isu yang beredar pada masyarakat langsung ditanggapi oleh General Manager Pertamina MOR V, Werry Prayogi.
“Beliau menjawab bahwa kelangkaan BBM disebabkan oleh panic buying. Pertamina MOR V berharap kelangkaan BBM tidak terulang lagi di masa mendatang,” ungkap Fahmy.
Selain itu, menurut Fahmy, dalam audiensi itu DEM Surabaya juga menyampaikan terkait rasio elektrifikasi di Jawa Timur yang masih pada angka 98 persen, meskipun ada peningkatan ketika tahun 2017 sebesar 91,7 persen.
“Tapi Pemprov Jawa Timur gagal dalam memenuhi target 100% pada akhir tahun 2019. Masih ada 2% rumah di Jawa Timur yang hari ini belum teraliri listrik, sangat disayangkan karna pada era modern ini masih ada masyarakat yang belum bisa menikmati listrik. Ini dialami di beberapa daerah termasuk di Kepulauan Madura,” ungkap Fahmy.
Oleh karna itu, sambung Fahmy, DEM Surabaya mendorong kepada Pemprov Jatim untuk mendukung Alat Energi Baru Terbarukan yang dikembangkan oleh mahasiswa.
“Perda Nomor 6 tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah Jawa Timur yang sudah disahkan oleh DPRD dan Pemprov pada Juli lalu, sampai sekarang belum di sosialisasikan kepada publik.
Kami mencoba untuk mencarinya pun kesulitan,” kata Fahmy.
Turut hadir dalam audiensi tetsebut antara lain Sekjen DEM Surabaya Dinas Arby, Kepala Departemen Kajian dan Riset DEM Surabaya Andi Setiawan dan anggota DEM Surabaya lainnya yang meliputi mahasiswa dari Universitas Merdeka, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Bhayangkara, Universitas Wijaya Kusuma, dan Politeknik Elektro Negri Surabaya.(hen)

