Arief Puyuono Prediksi Indonesia Makin ‘Babak Belur’ Setelah GSP Dicabut Amerika Serikat

oleh
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Puyuono. foto/wowkeren.com

URBANEWS.ID – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono memperdiksi sejumlah dampak yang bisa dialami Indonesia setelah Amerika Serikat tidak lagi mengkategorikan Indonesia sebagai negara berkembang.

“Kebijakan pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang oleh Amerika Serikat, dinamakan dengan Program generalized system of preference (GSP). Program ini telah berlangsung sejak 1976, tetapi sempat dihentikan pada 2013 dan kembali diberlakukan pada Juni 2015. Pada tahun 2020 ini, Indonesia dikeluarkan dari penerima fasilitas GSP karena keberhasilan Joko Widodo dalam menjadikan Indonesia dari status negara berkembang menjadi negara maju,” ungkap Arief kepada urbannews.id, Selasa (25/2/2020).

Pencabutan fasilitas GSP itu menurut Arief akan banyak membawa dampak yang lebih baik terhadap perekonomian Indonesia.

Baca Juga  Pemulihan Korban Online Scam Harus Disertai Solusi Lapangan Kerja di Dalam Negeri

“Terutama dengan akan banjirnya investasi asing ke Indonesia karena Indonesia di bawah kepemimpinan Kangmas Joko Widodo sudah menjadi negara maju yang berpenduduk dengan jumlah yang besar di Asia Tenggara serta memiliki tingkat komsumsi masyarakat yang tinggi. Kangmas sudah mengangkat nama bangsa Indonesia menjadi sejajar dengan bangsa bangsa dari negara maju loh,” ungkapnya.

   

Namun, lanjut Arief, tidak berapa lama lagi akibat ketidakmampuan diplomat-diplomat Indonesia yang telah gagal untuk melakukan lobi kepada United States Trade Representative (USTR) di Washington DC untuk tetap memohon fasilitas GSP, maka akan banyak industri-industri yang berorientasi ekspor ke pasar Amerika Serikat seperti industri mebel dan kerajinan, industri sepatu, tekstil, tas akan sulit bersaing di pasar Amerika Serikat, sebab akan dikenakan tarif masuk sama dengan negara-negara maju. 

Baca Juga  Kurikulum Tanggap Darurat Dimulai di Jabar, Begini Penjelasan Kang Emil...

“Ini akan berdampak pada tutupnya industri-industri tersebut di Indonesia yang akan hengkang ke negara berkembang di Asia Tenggara seperti Myanmar, Vietnam, Timor Leste dan Philipina,” kata Arief.

Dampaknya lagi, lanjut Arief, akan banyak ledakan PHK besar-besaran di sektor-sektor industri yang produknya diekspor. 

“Dan juga kredit macet akan meningkat akibat penjualan produk ekspor ke US turun drastis akibat pengenaan tarif yang membuat sulit bersaing dengan ekspor sejenis dari China dan negara-negara berkembang yang dapaf fasilitas GSP dari Amerika Serikat,” kata Arief.

Baca Juga  Fuad Bawazier: Untuk THR Pegawai Negeri Pun Pemerintah Bayar dari Dana Utangan

“Belum lagi makin ‘boncrot’ ekspor Indonesia dengan permintaan komoditas ekspor oleh China akibat dampak Virus Corona,” sambung Arief.

Dampaknya lagi, kata Arief, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat akan menjadi minus atau defisit dan berdampak pemasukan devisa akan berkurang banyak yang berdampak pada makin melemahnya kurs Rupiah.

“Nah harus ada jalan keluar untuk semua itu yang harus dilakukan oleh Pemerintah Joko Widodo. Misalnya dengan menggiatkan cinta pengunaan produk-produk Indonesia oleh masyarakat. Selain itu juga mesti mencari pasar ekspor baru di Afrika dan Eropa,” kata Arief.(hen)