BRIN Paparkan Temuan Strategis untuk Penguatan Tata Kelola Sumber Daya Berkelanjutan

oleh
IMG 3537

JAKARTALima peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan hasil riset terkini yang menyoroti isu energi, sumber daya alam, masyarakat adat, dan dinamika perbatasan negara. Temuan strategis yang semakin relevan di tengah perubahan global ini disampaikan pada Seminar Naskah Publikasi, Monitoring, dan Evaluasi Rumah Program Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan dan Humaniora, BRIN Tahun 2025, dengan tema “Tata Kelola Masyarakat dan Sumber Daya dalam Dinamika Transnasional”, secara daring di Jakarta, pada Kamis (27/11).

Yogi Setya Permana, peneliti Pusat Riset Politik, menyoroti bagaimana materialitas panas bumi membentuk konfigurasi kekuasaan dan memicu potensi konflik sosial di kawasan Dieng. Ia menegaskan pentingnya transisi energi berkeadilan yang tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan risiko sosial ekologis. Ia menyampaikan bahwa riset ini akan diperluas ke sektor biofuel dan wilayah produsen panas bumi lain untuk memperkaya pemahaman atas dinamika energi terbarukan.

   

Dari Pusat Riset Kewilayahan, Suribidari mengulas peran folklor dalam keberlanjutan budidaya pala di Kabupaten Fakfak. Temuan riset menunjukkan bahwa tradisi lisan dan ritual masyarakat lokal berfungsi menjaga keseimbangan ekologi pala. Namun demikian, kearifan lokal tersebut kini menghadapi tekanan standar pertanian global yang mengancam keberlanjutan praktik tradisional. Suribidari menekankan pentingnya mengintegrasikan perspektif budaya dalam kebijakan pertanian.

Mario Surya Ramadhan, Peneliti Pusat Riset Politik, membahas posisi Indonesia dalam persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok terkait hilirisasi nikel. Menurutnya, upaya Indonesia memperkuat posisi di rantai pasok global turut memunculkan ketergantungan baru yang menuntut strategi mitigasi risiko jangka panjang. Riset ini memberikan perspektif geopolitik penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan industri mineral strategis.

Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Enkin Asrawijaya, menyoroti kebijakan pengelolaan air bagi masyarakat adat Baduy. Melalui risetnya, Enkin menunjukkan bahwa praktik pengelolaan air tidak hanya terkait aspek teknis, tetapi juga melekat pada identitas dan pelestarian budaya adat. Ia mendorong penyusunan kerangka kebijakan air yang inklusif, sensitif budaya, dan mampu melindungi hak-hak masyarakat adat.

Sesi ditutup oleh Indriana Kartini, Peneliti Pusat Riset Politik, yang mengkaji dampak sosial-ekonomi dari tumpang tindih kepemilikan lahan pasca re-demarkasi perbatasan di Pulau Sebatik. Temuan riset menunjukkan bahwa perubahan batas wilayah memerlukan koordinasi intensif antarinstansi pemerintah dan partisipasi aktif komunitas lokal untuk mencegah konflik sosial serta memastikan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Rangkaian pemaparan tersebut menunjukkan kontribusi penting riset-riset BRIN dalam membaca dinamika strategis tata kelola sumber daya di Indonesia. Dengan perspektif lintas isu dan pendekatan multidisiplin, hasil riset ini diharapkan menjadi masukan bagi pembuat kebijakan dalam memperkuat tata kelola sumber daya yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *