Siloam Heart Hospital Perkuat Kompetensi Medis dengan Kolaborasi Internasional

oleh
IMG 3536

JAKARTA – Di tengah meningkatnya prevalensi penyakit jantung di Indonesia, Siloam Heart Hospital terus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit jantung unggulan.

Dengan standar klinis bertaraf internasional, Siloam Heart Hospital mencatat success rate operasi bypass jantung mencapai 98,8%. Lebih tinggi di bandingkan angka keberhasilan dalam publikasi ilmiah Journal of Cardiothoracic Surgery tahun 2024 mengenai hasil CABG di Singapura.

   

Untuk semakin menguatkan kompetensi, Siloam Heart Hospital menyelenggarakan Program Proktor Klinik bersama ahli bedah jantung internasional Prof. Oleksandr Babliak, M.D., Ph.D., Chief of Cardiac Surgery Department Dobrobut Medical Network sekaligus Founder of MICS Babliak Academy, Kyiv, Ukraina.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 25–26 November 2025 ini memiliki rangkaian aktivitas yang mencakup demonstrasi langsung teknik Total Coronary Revascularization via Anterior Thoracotomy (TCRAT), diskusi kasus secara mendalam, bimbingan langsung untuk dokter bedah jantung, serta pemaparan standar internasional terkait teknik Minimally Invasive Cardiac Surgery(MICS).

Kegiatan yang dipandu oleh dr. Heston G. B. Napitupulu, Sp.BTKV(K), MARS, selaku Chief of Cardiac Surgery Department Siloam Heart Hospital sekaligus operator utama, ini juga di ikuti oleh segenap tim dokter bedah toraks kardiovaskular, tim anestesi kardiovaskular, tim kardiologi, dan tenaga medis pendukung lainnya.

Sebagai rumah sakit yang terus mendorong transformasi layanan bedah jantung, Siloam Heart Hospital juga mengimplementasikan teknik MICS, sebagai bagian dari roadmap layanan bedah jantung modern. Teknik ini memungkinkan operasi di lakukan melalui sayatan kecil tanpa membuka tulang dada secara penuh, sehingga mempercepat pemulihan pasien.

“Pada teknik MICS, akses ke jantung di lakukan tanpa membedah tulang dada. Sayatan kecil di sela tulang rusuk sudah cukup untuk mencapai area yang di perlukan sehingga pemulihan pasien dapat berlangsung lebih cepat. Namun, tidak semua pasien penyakit jantung koroner dapat menjalani teknik ini; kami tetap menilai kondisi anatomi, fungsi jantung, dan komorbid secara menyeluruh. Pendekatan individual sangat penting agar hasil operasi tetap aman dan optimal” jelas dr. Heston.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *