TIONGKOK – Pemerintah Indonesia melalui Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Shanghai menyelenggarakan Indonesia Investment Business Forum di Hefei, Anhui, Tiongkok, pada Kamis (27/11). Forum ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperingati 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia–Tiongkok dan bertujuan memperkuat promosi peluang investasi Indonesia pada sektor-sektor prioritas nasional.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menyampaikan apresiasi atas peningkatan hubungan ekonomi kedua negara. “Penguatan hubungan Indonesia–Tiongkok merupakan fondasi bagi kolaborasi yang lebih mendalam dan terciptanya kesejahteraan bersama,” ujar Berlianto.
Beliau menjelaskan bahwa wilayah kerja KJRI Shanghai menyumbang 41,72% dari total investasi Tiongkok ke Indonesia, dengan nilai investasi mencapai USD 3,38 miliar pada tahun 2024, meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada sesi utama forum, Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, memaparkan perkembangan dan peluang investasi di KEK Indonesia. Ia menegaskan bahwa KEK kini menjadi salah satu motor penggerak transformasi ekonomi Indonesia.
“Kawasan Ekonomi Khusus berperan penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi dan menarik lebih banyak investasi asing melalui penguatan industri ekspor dan percepatan pembangunan daerah,” ujar Sekjen Edwin.
Ia menambahkan bahwa KEK akan menjadi pilar utama dalam mendukung prioritas pembangunan nasional pada 2025–2029, khususnya melalui peningkatan ekspor, substitusi impor, percepatan industri 4.0, dan pembangunan kawasan timur Indonesia.
Perkembangan KEK di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari peran penting investor Tiongkok yang menjadi salah satu mitra utama dalam mendorong pertumbuhan industri bernilai tambah. Melalui investasi pada sektor hilirisasi, energi baru terbarukan, manufaktur berteknologi tinggi, serta material maju, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah memperkuat rantai pasok industri dan mempercepat transformasi ekonomi Indonesia.
Sejumlah perusahaan Tiongkok telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan KEK Indonesia, di antaranya KEK Galang Batang pada industri alumina, photovoltaic, dan kimia; KEK Kendal pada rantai pasok baterai kendaraan listrik; dan KEK Gresik pada pembangunan pabrik copper foil terbesar di Asia Tenggara dan pabrik kaca terbesar di dunia.
“Perusahaan Tiongkok di KEK Galang Batang, Kendal, dan Gresik terbukti mendorong percepatan hilirisasi dan memperkukuh ekosistem manufaktur berteknologi tinggi di Indonesia,” jelas Sekjen Edwin.
Kehadiran mereka di berbagai KEK menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia sekaligus mencerminkan keselarasan visi kedua negara dalam membangun industri yang kompetitif dan berorientasi ekspor. Peran strategis ini menjadikan kolaborasi Indonesia–Tiongkok sebagai salah satu pilar utama dalam pengembangan KEK dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Mengakhiri paparannya, Sekjen Edwin mengajak para pelaku usaha Tiongkok untuk memanfaatkan peluang besar yang tersedia di KEK Indonesia. “Kami mengajak perusahaan-perusahaan dari Anhui dan Hefei untuk menjadi bagian dari ekosistem KEK yang terus berkembang—memanfaatkan kawasan ini tidak hanya sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai gerbang ke pasar global,” tutupnya.
Bersama Sekjen Edwin, turut hadir Plt. Kepala Administrator KEK Edukasi, Teknologi, Kesehatan, dan Internasional Banten (D-Hub SEZ), Bambang Wijanarko. Dalam paparannya, Bambang menjelaskan bahwa D-Hub merupakan kawasan baru yang dikembangkan melalui PP Nomor 38 Tahun 2024 dan berlokasi strategis di BSD City, Kabupaten Tangerang, dengan luas hampir 60 hektare.
Bambang menegaskan bahwa D-Hub dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang menggabungkan empat sektor utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, dan industri kreatif. “KEK ini membuka peluang yang sangat luas untuk pusat kesehatan berstandar internasional, inovasi medis, kolaborasi penelitian, serta akselerasi transformasi digital di Indonesia,” ujar Bambang.(*)

