GUNUNGKIDUL — Keberhasilan Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi contoh bahwa keterlibatan masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan destinasi wisata.
Anggota DPR RI Gandung Pardiman mendorong desa wisata lain meniru pola pemberdayaan masyarakat yang diterapkan Nglanggeran. Menurutnya, pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga harus mampu memberikan ruang bagi warga untuk terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi.
Nglanggeran sendiri dikenal sebagai salah satu desa wisata unggulan Indonesia. Desa tersebut meraih penghargaan ASEAN Community Based Tourism Award 2017, ASEAN Sustainable Tourism Award 2018, serta predikat Best Tourism Village dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO) pada 2021.
Keberhasilan itu tidak terlepas dari proses panjang yang melibatkan warga. Pengembangan kawasan ekowisata Gunung Api Purba bahkan telah dirintis kelompok pemuda bersama masyarakat sejak 1999 melalui kegiatan penghijauan.
Seiring waktu, masyarakat semakin terlibat dalam pengelolaan destinasi, termasuk melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku usaha lokal, kelompok tani, UMKM, hingga penyedia homestay.
Warga Bukan Sekadar Penonton
Model yang diterapkan Nglanggeran menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pengelolaan pariwisata. Warga tidak hanya menjadi tenaga pendukung, tetapi ikut merencanakan, mengembangkan atraksi, menyediakan layanan wisata, serta memproduksi berbagai produk lokal.
Konsep tersebut dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Kementerian Pariwisata mencatat Nglanggeran dikelola dengan melibatkan sebagian besar pemuda desa bersama masyarakat dan mengembangkan berbagai paket wisata edukasi.
Aktivitas masyarakat sehari-hari juga dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, pengolahan cokelat, kerajinan, budaya, hingga kehidupan masyarakat desa.
Dengan pola tersebut, keberadaan wisata tidak harus menggantikan mata pencaharian warga. Sebaliknya, kegiatan ekonomi masyarakat dapat menjadi bagian dari daya tarik destinasi.
Kajian Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI menyebut pemberdayaan masyarakat di Nglanggeran dilakukan melalui tiga tahapan, yakni penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayaan. Pelatihan dan pendampingan kemudian memperkuat kemampuan warga dalam mengelola desa wisata.
Ekonomi Warga Ikut Bergerak
Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu alasan pengembangan Nglanggeran tidak berhenti pada peningkatan jumlah wisatawan. Manfaat ekonomi juga diarahkan agar dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.
Berbagai usaha warga tumbuh mengikuti perkembangan pariwisata, mulai dari homestay, kuliner, produk UMKM, kerajinan, hingga paket aktivitas wisata.
Pengelola juga mendorong wisatawan membeli produk lokal dan berinteraksi dengan kelompok masyarakat. Pendekatan tersebut membuat aktivitas wisata memiliki keterkaitan langsung dengan perekonomian warga.
Pada 2026, penguatan kelembagaan masyarakat masih dilakukan. Reorganisasi Pokdarwis Nglanggeran periode 2026-2031 melibatkan pemerintah kalurahan, Bumkal, tokoh masyarakat, pengurus Pokdarwis, dan warga. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan wisata sekaligus meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
Bisa Menjadi Model Desa Wisata Lain
Keberhasilan Nglanggeran menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata berbasis masyarakat membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan pembagian peran yang jelas.
Pengelola Desa Wisata Nglanggeran sendiri menempatkan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta evaluasi sebagai bagian dari prinsip pengelolaan kawasan. Tujuan akhirnya bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga alam dan budaya.
Dorongan agar desa wisata lain mengikuti pola tersebut menjadi relevan karena potensi wisata Indonesia tidak hanya berada di kawasan perkotaan atau destinasi besar.
Jika masyarakat diberi ruang untuk mengelola potensi lokal, desa dapat membangun sumber ekonomi baru tanpa meninggalkan karakter, budaya, dan lingkungan yang menjadi identitas mereka.
Nglanggeran pun menunjukkan bahwa sebuah desa dapat dikenal hingga tingkat internasional ketika masyarakat ditempatkan sebagai bagian utama dari perjalanan pengembangan pariwisata.(*)





