JAKARTA — Pasar negara berkembang menjadi motor pertumbuhan penjualan global Unilever pada kuartal III-2026. Perusahaan barang konsumsi asal Inggris itu mencatatkan omzet 13,3 miliar euro atau sekitar Rp269 triliun, meningkat 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan penjualan di sejumlah pasar utama, termasuk India, Amerika Latin, dan Asia Tenggara. Hasil ini menunjukkan kontribusi pasar berkembang di tengah kondisi pasar negara maju yang relatif lebih menantang.
Dalam laporan kinerja kuartal III-2026 yang dirilis pada 28 Oktober 2026, Unilever mencatat pertumbuhan penjualan inti (underlying sales growth) sebesar 5,2 persen. Angka tersebut melampaui ekspektasi analis sebesar 4,8 persen.
Pertumbuhan itu terdiri atas kenaikan volume penjualan sebesar 2,9 persen dan kontribusi harga sebesar 2,3 persen. Penyesuaian harga dilakukan untuk membantu mengimbangi kenaikan biaya komoditas.
CEO Unilever Fernando Fernandez mengatakan perusahaan kembali mencatatkan pertumbuhan yang kompetitif dengan dukungan volume penjualan yang kuat dan penyesuaian harga.
Menurut dia, pasar berkembang menjadi salah satu pendorong utama kinerja perusahaan, terutama berkat pertumbuhan di India serta kekuatan penjualan di Amerika Latin dan Asia Tenggara.
Produk Perawatan Jadi Penggerak
Berdasarkan laporan perusahaan, merek-merek unggulan Unilever yang disebut sebagai Power Brands membukukan pertumbuhan penjualan inti 5,8 persen. Volume penjualannya meningkat 3,3 persen dibandingkan kuartal III-2025.
Segmen kecantikan dan kesejahteraan (Beauty & Wellbeing), perawatan pribadi (Personal Care), serta perawatan rumah tangga (Home Care) turut menopang kinerja. Secara khusus, kelompok produk kesehatan dan perawatan pribadi serta rumah tangga mencatat pertumbuhan penjualan inti sebesar 7 persen, dengan volume meningkat 4,1 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk kebutuhan sehari-hari masih berperan penting dalam menjaga pertumbuhan perusahaan. Namun, hasil antarpasar dan antarkategori produk tidak sepenuhnya seragam.
Pertumbuhan penjualan juga perlu dibaca bersama kontribusi volume dan harga. Kenaikan omzet tidak semata-mata mencerminkan peningkatan jumlah produk yang terjual, karena penyesuaian harga dan faktor lain turut memengaruhi pendapatan.
Prospek 2026 Diperkuat
Setelah mencatatkan kinerja selama sembilan bulan pertama tahun ini, Unilever memperbarui proyeksi pertumbuhan volume penjualan untuk 2026. Perusahaan kini memperkirakan pertumbuhan volume penjualan inti setidaknya mencapai 3 persen sepanjang tahun.
Unilever tetap memperkirakan pertumbuhan penjualan inti tahunan berada dalam kisaran panduan jangka menengah sebesar 4–6 persen. Perusahaan juga menargetkan perbaikan moderat pada margin operasi inti dibandingkan 2025, ketika margin tersebut tercatat 20 persen.
Untuk paruh kedua 2026, perusahaan memperkirakan pertumbuhan penjualan inti sekitar 5 persen. Proyeksi tersebut didukung kinerja sembilan bulan pertama yang dinilai kuat.
Meski demikian, prospek perusahaan tetap menghadapi tantangan, termasuk biaya komoditas dan perbedaan kondisi permintaan antara pasar berkembang dan pasar maju. Perusahaan perlu menjaga pertumbuhan volume sekaligus mengelola harga agar kinerja penjualan tetap kompetitif.
Bagi Unilever, hasil kuartal III-2026 memperlihatkan bahwa pasar berkembang semakin penting dalam menopang penjualan global. Keberlanjutan pertumbuhan akan bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan permintaan, memperkuat merek unggulan, dan menyesuaikan strategi dengan kondisi setiap pasar.(*)





