Syarwan Hamid: Yang Kokoh Beragama Mau Diusir, yang Terang-terangan Komunis Tak Diusur dari NKRI

oleh
syarwan hamid
Syarwan Hamid.

URBANNEWS.ID – Mantan Menteri Dalam Negeri RI, Letjen (Purn) Syarwan Hamid, mengungkapkan kegelisahannya atas makin mencuatnya isu negara khilafah. Menurutnya, belakangan gencar dilontarkan ide negara khalifah sebagai kambing hitam masalah Bangsa. 

“Saya berusaha memahami konsep negara khilafah itu yang maknanya negara dengan idiologi Islam. Dan ini sudah ditolak sejak awal kemerdekaan. Sebagian besar Umat Islam sepakat dengan penolakan tersebut,” ungkap Syarwan kepada urbannews.id, Sabtu (5/10/2019).

Baca Juga  Buku Simon Sembiring Bisa Jadi Alat Bukti ke KPK untuk Ungkap Dugaan Mark Up Pembelian PI Rio Tinto

Dewasa ini, kata Syarwan, isu itu gencar dipersoalkan lagi, meskipun yang berpikiran menghendaki Negara Islam itu sedikit. Sedemikian dramatisnya tudukan itu atau berlebihan, sehingga terkesan Penguasa memojokkan Umat Islam. 

“Khalifah dalam terminologi umum adalah Pemimipin Umat Islam apapun namanya. Dalam konteks Indonesia Pemimpin itu adalah Tokoh yang mengimani Islam dan tetap dalam payung Idiologi Pancasila,” kata Syarwan.

   
Baca Juga  FCX dan Rio Tinto Buat JVA Melebihi Masa Berlaku Kontrak Karya, CERI: Ngeri Ngeri Sedap Ini…!

Lebih lanjut  Syarwan mengatakan, Umat Islam mengharapkan Pemimpin yang terpilih itu adalah dia yang Islam kaffah dan Pancasilais sejati. “Mungkin dalam pikiran Umat lain menghedaki pula Pemimpin yang “kaffah” yang Pancasilais sejati. Itu wajar,” kata Syarwan.

Hendaknya, lanjut Syarwan, sikap yang kokoh itu jangan mudah dituduh ekstrim, apalagi mau diusir dari Republik ini. 

Baca Juga  Dilantik Jadi Ketua IKA Unair, Asman Abnur Larang Alumni Bawa Nama Kampus ke Politik Praktis

“Komunis yang terang-terangan menyatakan sikapnya tak diusir, termasuk juga yang mengibarkan bendera Papua di depan Istana. Tolong pejebat negeri ini yang mayoritas penduduk beragama Islam tidak mengobral tuduhan kepada umat Islam,” tutup Syarwan.(hen)