
URBANNEWS.ID – Dewan Energi Mahasiswa Indonesia, BEM Seluruh Indonesia , dan BEM Nusantara mengadakan diskusi online yang dilakukan selama dua hari. Diskusi online itu mengusung tema “Ketahanan Energi Nasional di Tengah Pandemi Covid-19, Siapkah kita?”
Diskusi online itu menampilkan lima pembicara, Marwan Batubara, Iwan Ratman, Alif Zulviqar, Rosyid Al Hakim, dan Cahya Nugroho.
Diskusi diawali dengan pemaparan Rosyid Alhakim. Wasekjen Riset dan Kajian DEM Indonesia itu pada pemaparannya membeberkan pengenalan energi dan ketahanan energi. Ia mengatakan bahwa energi digunakan sebagai modal pembangunan dimana pemerintah masih mengutamakan energi gas dan batubara.

Sesi kedua diskusi online, diisi pemaparan Marwan Batubara, Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS). Ia memaparkan ketahanan energi secara umum dari sisi keadaan pasokan, keadilan, dan energi karbon.
“Dengan kita mengalami defisit perdagangan terutama Migas, maka salah satunya akan menyebabkan nilai tukar kita akan semakin turun. Dalam hal ini artinya ketahanan energi kita terganggu. Karena kita bergantung pada banyak hal, bukan hanya saja barangnya yang kita bergantung keluar, kita juga bergantung pada bagaimana nilai tukar mata uang kita ikut terganggu karena kita terlalu banyak impor,” ujar Marwan.
Pemaparan materi ke tiga yaitu disampaikan oleh Alif Zulviqar selaku Korsu Energi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) sekaligus Presiden Mahasiswa Institut Teknologi PLN.
Alif memaparkan, di tengah pandemi Corona saat ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan dan sudah selayaknya pemuda bersikap selektif atas kebijakan yang dibuat oleh pemerintah itu. “Mahasiswa harus melakukan pengawalan terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,” tegas Alif
Cahya Nugroho dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Nusantara memaparkan pandemi Covid-19 sampai saat ini masih belum diketahui kapan akan berakhir. Hal itu menurutnya juga akan berdampak kepada ketahanan energi yang ada di Indonesia.
“Salah satu dampak dari Covid-19 yaitu turunnya harga pangan. Kemungkinan akan terjadi terus-menerus apabila tidak ditindak lanjuti. Hampir semua warga negara di dunia, hanya terfokus kepada kondisi negaranya masing-masing. Untuk itu, Indonesia harus mandiri dan menyelamatkan kondisi didalam negeri,” ujar Cahya.
Terakhir, Iwan Ratman yang merupakan President Petro TNC Internasional serta Direktur Utama PT Mahakam Gerbang Raja Migas dan juga sekaligus Chairman PT Petro TNC Internasional menjelaskan bahwa ketahanan energi sebenarnya sudah bermasalah sebelum adanya pandemi covid-19. “Dan Indonesia sebenarnya kaya akan keanekaragaman energinya bukan sumber energinya,” kata pria yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Komunitas Migas Indonesia itu.(hen)
