“Beralih usaha pun tidak menjadi solusi, karena usaha yang baru dibuka tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi untuk langsung membuahkan hasil. Alih-alih usaha menjadi pendapatan baru bagi guru ekskul, yang terjadi malah sebaliknya, dana tabungan habis untuk dijadikan modal usaha,” ulas Adri.
“Rangkaian panjang masalah tersebut, artinya Nadiem sebagai mantan CEO perusahaan, tidak mampu menganalisis masalah secara menyeluruh, dan tidak mampu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi berikutnya. Seperti misal, ketika kemendikbud membebaskan sekolah menggunakan dana bos untuk menggaji guru, alih-alih memperhatikan perekonomian di lingkungan pendidikan dengan membebaskan sekolah menggunakan dana BOS sesukanya, justru Dana BOS malah menjadi bancakan oknum-oknum di dunia pendidikan, dan ini juga tidak menjadi perhatian serius oleh Kemendikbud,” kata Adri.

Dikatakan Adri, Nadiem sebagai Menteri Kemendikbud hanya menekan kinerja guru di sekolah berbasis laporan foto, tanpa memperhatikan dampak secara menyeluruh didalam maupun diluar sekolah sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh kemendikbud.
“Maka dari itu, Nadiem seharusnya fokus saja pada penanggulangan masalah seputar pendidikan, perhatikan bagaimana nasib siswa dan guru ekskul pascapandemi, bukan malah menghapus sejarah yang seharusnya juga dipelajari oleh Menteri,” tutup Adri.(hen)
