CERI: Andre Rosiade Gerindra Sok Hebat, Menekan Ahok Supaya Pertamina Akuisisi BUMN Sakit

oleh -

URBANNEWS.ID – Sikap sok faham politisi Partai Gerindra Andre Rosiade dari Komisi VI DPR RI, yang terkesan ingin mengintervensi Pertamina melalui Menteri BUMN Erick Thohir agar segera mengakuisisi PT Rekayasa Industri (Rekind), telah mengundang tawa sinis dan kecewa. Karena, biar bagaimanapun, seorang wakil rakyat di DPR seharusnya tidak sekonyol itu.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman kepada urbannews.id, Minggu (11/7/2021).

“Pasalnya, hal itu diungkap Andre di dalam rapat dengar pendapat antara DPR RI Komisi VI dengan Menteri BUMN Erick Tohir pada Kamis 8 Juli 2021 di Senayan, saat mana dia mempertanyakan mengapa rencana akuisisi PT Rekind oleh Pertamina sejak tahun 2018 hingga saat ini belum terealisir,” ungkap Yusri.

Hemat saya, lanjut Yusri, pertanyaan itu muncul karena Andre sangat minim pemahaman atas kondisi kesehatan keuangan PT Rekayasa Industri (Rekind) yang merupakan anak usaha holding PT Pupuk Indonesia yang memang sejak lama sudah berdarah-darah.

“Selain itu juga karena sangat mungkin dia minim pemahaman bahwasanya Pertamina itu juga punya banyak beban penugasan dari Pemerintah maupun beban lainnya akibat proses bisnis di masa lalu yang telah membebani keuangan Pertamina jangka panjang, sehingga tentulah bagian manajemen resiko Pertamina akan memberikan pertimbangan yang terbaik bagi Dewan Direksi dan Dewan Komisaris Pertamina,” ulas Yusri.

Jadi, kata Yusri, sangat benar dan wajar jika Dewan Komisaris terutama Ahok sebagai Komisaris Utama  demikian juga Direksi Pertamina

tidak akan mudah diintervensi oleh siapapun demi menjaga kepentingan Pertamina agar tetap eksis dan bisa melayani kepentingan orang banyak, sekaligus agar bisa memberikan kontribusi labanya bagi pemerintah. 

“Jadi menurut saya, pengurus terutama Komisaris Pertamina akan sangat hati-hati dan cermat dalam mengakuisisi PT Rekind, meskipun Kementerian BUMN telah meminta kepada Pertamina sejak tahun 2018 agar disinergikan,” lanjut Yusri.

Lagi pula, tambah Yusri, si Andre ini pun tampatnya tidak faham bahwa sinergi antar BUMN itu tidak harus dengan proses akuisisi, bisa juga dengan strategi partner, karena Erick sebagai Meneg BUMN telah menerbitkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-07/MBU/IV/2021 yang merupakan perubahan kedua atas Peraturan Menteri BUMN nomor PER-03/MBU/08/2017 tentang Pedoman Kerja sama BUMN.

Dari hal-hal yang ia kemukakan di atas, Yusri menyatakan sangatlah memalukan narasi provokatif konyol yang dilontarkan Andre saat itu.

Sebagaimana dilansir detik.com edisi 9 Juli 2021, Andre mengumbar pernyataan, “Bagaimana perkembangannya Pak Menteri? Jadi jangan sampai kalah wibawanya Kementerian BUMN oleh satu orang Komisaris Pertamina.”

“Seharusnya Andre sebagai anggota pembuat undang undang memahami setidaknya membaca dulu Undang Undang Perseroan Terbatas, bahwa komisaris itu hakekatnya adalah merupakan organ perpanjangan pemegang saham dalam perseoran untuk mengawasi pelaksanaan tugas direksi dalam menjalankan roda perseroan sesuai Anggaran Dasar Perseroan dan Keputusan RUPS in casu Pemerintah RI cq  Menteri BUMN,” ungkap Yusri.

“Sebelumnya, pada 16 September 2020, karena ketidakpahaman Andre tentang posisi, fungsi dan tugas komisaris incasu Ahok, Andre juga telah mendesak Presiden Jokowi dan Erick Thohir copot Ahok dari Pertamina. Bahkan saat itu, Andre menuduh Pak Ahok ini bikin gaduh dan cenderung tanpa dasar bikin statemen,” tambah Yusri.

Kala itu, Andre menyatakan, “Saya Paham Pak Ahok butuh panggung, tapi tolong jangan menimbulkan citra negatif bagi Pertamina, jangan kebanyakan bacot.”

Pernyataan Andre itu menurut pendapat Yusri, merupakan pernyataan yang vulgar. “Entah karena otaknya juga vulgar karena bukankah kalimat itu dirumuskan di otak?,” ungkap Yusri.

Dulu, kata Yusri, sebagaimana dilansir Kumparan pada 16 Oktober 2020, Andre juga menuduh pernyataan Ahok tanpa dasar, seperti Pertamina lebih suka blok migas di luar negeri daripada eksplorasi di  dalam negeri.

“Ini juga hemat saya, karena Andre memang minim pemahamannya soal adanya investasi participacing interest pada blok migas di luar negeri itu yang kental dengan masalah, termasuk ketidaksesuaian apa yang telah diinvetasikan dengan penerimaan yang diperoleh Pertamina dalam bentuk minyak mentah atau dalam bentuk penerimaan uang,” ulas Yusri.

Seharusnya, kata Yusri, Andre mengenal paling tidak mengetahui meskipun resiko besar yang telah dan akan dihadapi Ahok, dia tidak akan perduli karena demi kebaikan Pertamina untuk mana dia ditugaskan Menteri BUMN.

“Sebaliknya, publik seharusnya mencermati dan mempertanyakan apa motif Andre mendesak-desak Pertamina mengakuisisi Rekind dengan hanya alasan ada proyek pembangunan kilang Olefin TPPI bernilai sekitar Rp 50 triliun itu kah?,” tanya Yusri.

“Apa si Andre ini tidak paham atau tidak mengetahui bahwa pelaksanaan proyek RDMP kilang Pertamina Balikpapan terseok-seok jalannya, baru sekitar 35% dari target harusnya sudah mencapai 70% saat ini, bahkan kini sedang diaudit investigasi oleh BPKP karena ada kecurigaan adanya peningkatan nilai proyek melebihi 10% dari nilai kontrak, yang dilihat dari sudut pasal 53 dari Peraturan Presiden nomor 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang Jasa?,” ungkap Yusri lagi.

Lebih lanjut Yusri mempertanyakan, apakah Andre, tidak tau atau tidak faham pula PT Rekind telah meninggalkan jejak buruk pada pelaksanaan proyek ROPP Kilang Balongan pada tahun 2008- 2012?

“Menurut temuan BPK RI akibat keterlambatan itu, Pertamina kehilangan pendapatannya USD 43,58 juta dari awal temuannya senilai USD 139,11 juta. Ironisnya sudahlah terlambat penyelesaian lebih setahun dari target, informasinya target produksinya pun hanya sekitar 60 m% hingga 70% dari kapasitas terpasang,” ungkap Yusri.

Dari polah Andre Rosiade ini, Yusri mengaku lalu teringat pada ‘Dunning Kruger effect’, yaitu ilusi psikologis dari orang-orang yang berpengetahuan rendah dan berlogika buruk tetapi beranggapan bahwa mereka adalah ahli atau expert. 

“Fenomena ini pertamakali dipelajari oleh Justin Kruger dan David Dunning, dan dipublikasikan pada tahun 1999 dalam journal paper yang berjudul ‘Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s incompetence lead to inflated self-asessments’,” ungkap Yusri.

Menurut kesimpulan mereka, jelas Yusri, bias ini diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tersebut secara metakognitif untuk mengetahui segala kekurangannya. Dengan kata lain, seseorang itu tidak mampu memikirkan apa yang dia ketahui atau pikirkan.

“Metakognisi merupakan proses mengamati dan mengendalikan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam kepala kita sendiri, dengan kata lain berpikir tentang berpikir. Misalnya kita berfikir, apakah yang saya fikirkan salah? atau apakah pendapat yang akan saya kemukakan salah?,” ulas Yusri.

Menurut Yusri, seringkali seseorang, apalagi yang kebetulan mempunyai kedudukan atau popularitas di masyarakat atau komunitas tertentu, yang baru membaca atau melihat sesuatu di internet atau postingan di medsos, lalu merasa sudah mempunyai keahlian atau expertise dalam hal yang dibaca atau dilihatnya atau didengarnya itu, kemudian langsung  berkomentar, mengkritik bahkan kadang menghujat dengan kalimat yang sangat vulgar di media sosial.

“Oleh sebab itu, jika saya jadi ketua umum Partai Gerinda, maka si Andre ini akan saya PAW-kan segera, karena menurut saya, dia lebih cocok sebagai pedagang daripada wakil rakyat,” tutup Yusri.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *