Masalah PLN, Erick Thohir Mulai ‘Buang Badan’

oleh -
Erick Thohir. foto/CNN Indonesia/Andry Novelino

DALAM Kontan.co.id 14 Agustus 2021 Menteri BUMN menyampaikan titahnya agar PLN tidak bikin proyek aneh-aneh lagi yang membuang duit. 

Dengan statement di atas terkesan Erick Thohir ‘buang badan’ terhadap kesalahan managerial PLN. Dan seolah dia paling bersih tanpa kesalahan. 

Bagi rakyat, kesalahan langkah pengelolaan Negara itu berdampak pada tingkat kesejahteraan, dalam hal PLN pastilah kenaikan tarif. Dan kesalahan langkah itu rata-rata karena kerakusan pejabat. Makin tinggi jabatan dampaknya makin luas. 

Dengan demikian clear bahwa Proyek 35.000 MW yang dilaunching Jokowi, atas desakan Wapres JK, pada awal 2015 itu, menurut Erick, adalah proyek ‘buang buang duit’. Karena proyek itu kini mengakibatkan over supply 47 persen. Dan dua bulan yang lalu COD beberapa PLTU dengan kapasitas total sekitar 6.000 MW tertunda. 

Tetapi pembangkit-pembangkit swasta tersebut tetap terima duit 70% persen penjualan stroom perharinya (TOP Clause). Artinya terjadi pemborosan bermiliar-miliar uang rakyat untuk bayar stroom yang tidak terpakai, yang semuanya dipastikan berasal dari hutanguar negeri. Itu semua rakyat yang akhirnya akan mikir pengembalian hutang itu, bukan Jokowi! 

Tetapi saat proyek itu dilaunching, hampir semua pejabat di Kemeneterian ESDM dan Kementerian BUMN ngotot bahwa proyek 35.000 MW memang harus. Kalau tidak Indonesia akan bangkrut! Menko Rizal Ramli yang menentang pun dicopot! 

Terus sekarang dengan entengnya Erick bilang PLN jangan bikin proyek gak perlu? Lha kok enak? Terus PLTU Batang 2.000 MW itu milik siapa kalau bukan milik keluarganya?

Dan munculnya nafsu serakah itu memang dikondisikan secara sistemik dengan terbitnya “The White Paper” Kebijakan Restrukturisasi Sektor Ketenagalistrikan oleh Departemen Pertambangan dan Energi pada 25 Agustus 1998. Dan itu pun didorong oleh IFIs (WB,ADB,IMF) dengan apa yang dinamakan sebagai The Power Sector Restructuring Program (PSRP). Itupun muncul karena adanya Letter Of Intent (LOI) pada 31 Oktober 1997. 

Intinya dalam grand design “The White Paper” itu PLN Jawa-Bali hanya boleh mengelola Transmisi dan Distribusi. 

Makanya jangan heran kalau saat ini ada program Holdingisasi PLTP ke Pertamina. Karena program tersebut untuk “membersihkan” pembangkit PLN yang beroperasi di Jawa-Bali sesuai doktrin “The White Paper” tersebut! Tujuannya agar di Jawa-Bali terjadi kompetisi penuh (MBMS) kelistrikan tanpa ada gangguan dari pembangkit PLN lagi! Sehingga berpesta pora lah oknum yang bisa memanfaatkan turbulensi listrik ini seperti Dahlan Iskan, JK, Luhut BP dan Erick sendiri.

Kemudian ada hutang PLN Rp 500 triliun? Itu sebagai akibat doktrin Pemerintah agar PLN memfasilitasi jaringan Transmisi dan Distribusi sesuai The White Paper itu! Terutama guna menyalurkan “stroom” dari Power Station yang 35.000 MW itu, yang akhirnya mangkrak karena saat ini sudah over supply! Berarti Rp 500 Triliun itu membiayai proyek mangkrak, atau memproduksi besi tua dalam wujud Transmisi atau Distribusi yang gagal tidak jadi dilewati stroom 35.000 MW.

Kesimpulanya, Erick Thohir ini rupanya sedang buying time menunggu pelaksanaan program Holdingisasi PLTP PLN ke Pertamina. sejumlah PLTA milik PLN diserahkan ke PUPR, relokasi PLTGU PLN ke luar Jawa. Setelah itu Indonesia Power dan PJB bubar. 

Sedangkan PLN Holding yang di Jawa-Bali akan ditransformasi bahasa kerennya Direksi PLN menjadi PTJB Perusahaan Transmisi Jawa-Bali dan Perusahaan Distribusi Jawa-Bali (PDJB). P2B (Pusat Pengatur Beban) Jawa- Bali akan dijadikan Lembaga Independent Pengatur System dan Pengatur Pasar.

Setelah itu dimulai lah pesta MBMS secara murni karena tidak ada lagi instrumen PLN guna menyalurkan subsidi listrik! Paling-paling nanti dialihkan menjadi KTL (Kartu Tenaga Listrik) yang dibagikan lewat RT/RW itu pun kalau ada dananya. Kalau tidak ya rakyat yang tidak mampu terpaksa pakai lilin, teplok, sentir, gembreng dan lain-lain! Innalillahi wa inna ilaihi roojiuuun!***

Magelang, 15 Agustus 2021

Ahmad Daryoko

Koordinator INVEST

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *