Harga BBM Dalam Negeri Keok Dibanding Negara Tetangga Malaysia

oleh
F00FD3FA 7548 412C A535 FB42AD8041B2

JAKARTA – Harga bahan bakar minyak (BBM) di tanah air saat ini dipandang masih terbilang mahal jika dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia. Tak hanya kemahalan, masyarakat belum bisa menikmati BBM dengan kualitas dan mutu terbaik. 

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman di Jakarta, Minggu (14/8/2022).

Cilakanya lagi, lanjut Yusri, ada komentar Menteri BUMN Erick Thohir bahwa tidak tepat membandingkan harga BBM Pertamina dengan Malaysia.

“Jadi Erick mau dibandingkan dengan negara mana? Sebutkan dong dengan negara mana tepatnya dibandingkan, bukan asal membantah,” tanya Yusri penuh heran.

   

“Apa Erick Thohir lupa bahwa janji kampanye Jokowi sebelum terpilih jadi presiden pada 2014, bahwa jelas dikatakan bahwa jika terpilih jadi Presiden, Jokowi akan membesarkan Pertamina mengalahkan Petronas, nah  janji itulah yang ditunggu realisasinya oleh publik,” kata Yusri.

Jadi, tegas Yusri, membandingkan harga BBM Indonesia dengan Malaysia, jauh lebih tepat dari negara lainnya, karena karakteristiknya hampir sama-sama sebagai net importir juga.

“Hanya kita angka impor sudah mencapai sekitar 60% dari total komsumsi nasional yang katanya hari ini sudah mencapai 1,5 juta barel perhari, tetapi kalau Malaysia hanya sekitar 20% importnya,” kata Yusri.

Baca Juga  The Wave of Demonstrations Hits Surya Dumai Group and First Resources, Nasir Day: Students' Intellectuality and Idealism Disturbed

Selain itu, sambung Yusri, beda pola distribusi Pertamina memang jauh lebih rumit dari pada Malaysia, karena negara kepulauan, pola distribusi paling rumit di dunia tidak bisa dibantah.

“Jadi soal beban biaya distribusi saja yang berbeda, beban itu pun selisihnya tidak terlalu signifikan terhadap harga keekonomian BBM, yang signifikan adalah harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah serta biaya pengolahaan di kilang” ungkap Yusri.

Seharusnya, ulas Yusri, dicari akar masalah apa penyebab harga keekonomian BBM Pertamina jauh lebih tinggi dibandingkan harga BBM Malaysia.

“Harus diketahui, selain ada penyakit bawaan Pertamina yang rentan terhadap posisi harga minyak mentah dunia, ternyata proses bisnis di Pertamina tidak efisien dari hulu ke hilir,” kata Yusri.

“Selain itu diduga terjadi juga proses ‘hengki pengki’ atas proses akuisisi PI tersebut, termasuk tidak efisiennya kilang kilang Pertamina, Biaya Pokok Produksinya (BPP) tinggi, mungkin akibat kilangnya sudah tua tua, proyek RDMP (Refinery Development Master Plan)  tak ada duitnya,” kata Yusri.

Baca Juga  Desak BPK Segera Hitung Kerugian Negara Akibat Medco Tak Lelang Penjualan Kondensat, CERI: KPK dan Kejagung Mesti Turun Tangan

Lebih lanjut Yusri menjelaskan, ternyata tidak efisienya proses bisnis Pertamina secara menyeluruh juga berimbas langsung ke masyarakat sangat dirugikan sebagai pengguna BBM, yaitu  tidak bisa menikmati  harga BBM murah dan berkualitas yaitu standar Euro 4. Terbukti BBM Pertamina yang memenuhi standar Euro 4 hanya jenis Pertamax Turbo dan Pertamina Dex, selebihnya standar Euro 2.

“Jelas ini jadi penyebab buruknya kualitas udara di kota-kota besar Indonesia, tentu yang menjadi korban adalah kesehatan masyarakat di pinggir jalan yang menghirup udara kotor itu bisa menimbulkan penyakit, padahal mereka bukan pengguna langsung BBM,” kata Yusri.

“Faktanya proyek Upgrading Kilang Pertamina atau GRR (Gross Root Refenery) yang direncanakan bisa menghasilkan BBM kualitas Euro 5  hingga saat ini molor semuanya, maka kualitas BBM kita memang menyedihkan,” kata Yusri.

Dijelaskan Yusri, jika dibandingkan harga BBM di Indonesia dengan  Malaysia saja, periode 3 Agustus 2022 hingga 11 Agustus 2022, BBM Pertamina sudahlah sangat mahal dan buruk kualitasnya.

“Data terakhir ini menunjukkan bahwa, harga jual BBM jenis RON 95 di Malaysia hanya RM 2.05 atau Rp 6.850,-perliter, diesel RM 2.15 atau Rp 7200,- perliter ( kedua jenis tersebut ada subsudi RM 2,05 perliter), serta harga Gasoline RON 97 tanpa subsidi seharga RM 4.55 atau Rp 15.200 perliter (1RM = Rp 3.340 ), kata Yusri.

Baca Juga  Dua Saksi SKK Migas Berikan Kesaksian Bohong di Sidang Limbah TTM Chevron, LPPHI Akan Melapor ke Polda Riau

Lebih lanjut kata Yusri, harga Gasoline Ron 97 berkualitas Euro 5 Malayasia tanpa subsidi ini jika dibandingkan dengan harga keekonomian Pertalite Rp 17.200 saja tentu perbedaannya seperti bumi dengan langit, meskipun dijual Rp 7.650 perliter di SPBU, karena disubsidi Pemerintah Rp 9.500 perliter.

“Coba buka apa yang telah dikatakan Dirut Pertamina Nicke Widyawati di media Kompas, 11 Juli 2022. Bahwa PT Pertamina Patra Niaga terpaksa menjual Pertalite Rp 7.650 perliter, seharusnya Rp 17.200 perliter. Ini buktinya BBM standar Euro2 tetapi jauh lebih mahal dari Gasoline Ron 97 standard Euro 5 di Malaysia di harga Rp 15.200 perliter,” kata Yusri.

Padahal, kata Yusri, Gasoline 95 Malaysia sudah Euro4 dengan kandungan sulfur 50 ppm. Kualitasnya jauh di atas Pertamax 92 yang masih Euro2 dengan kandungan sulfur masih 500 ppm. “Ini sangat menyedihkan,” ucap Yusri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *