PEKANBARU – Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar kini menjadi pendekatan yang semakin relevan dalam dunia pendidikan. Hal ini diwujudkan oleh tim dosen Pendidikan Biologi bersama dosen Pendidikan Kimia FKIP Universitas Islam Riau (UIR), Dr. Iffa Ichwani Putri, S.Pd., M.Pd., Dr. Nurkhairo Hidayati, S.Pd., M.Pd., Dr. Ummi Kalsum, S.Pd., M.Pd., Putri Ade Rahma Yulis, S.Pd., M.Si., melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Ekstrakurikuler Eksplorasi Sains Lokal dengan Evaluasi Cognitive Load, Program ini hadir sebagai solusi atas belum optimalnya pemanfaatan potensi lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran sains yang kontekstual.
Dilatarbelakangi oleh besarnya potensi alam di lingkungan sekolah mitra, seperti vegetasi lokal dan keanekaragaman hayati mikro, Iffa melihat adanya kesenjangan antara potensi tersebut dengan praktik pembelajaran yang berjalan.
“Selama ini kegiatan eksplorasi sains lokal belum dikembangkan secara terstruktur dalam ekstrakurikuler, sehingga berdampak pada rendahnya minat dan keterampilan siswa dalam bidang akademik serta belum optimalnya literasi sains berbasis lingkungan,” jelas Iffa Ichwani.
Melalui program ini tim PKM memperkenalkan konsep SELASAR (Sains Eksploratif Langsung dari Sumber Alam dan Ruang Lokal) sebagai pendekatan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna.
Implementasi program dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan langsung kepada guru dan siswa di SMPN 4 Siak Hulu. Siswa diajak melakukan eksplorasi lingkungan sekolah dengan metode school-yard inventory, mulai dari pemetaan area hijau, identifikasi morfologi tumbuhan, hingga klasifikasi dan pemanfaatannya.
Dalam kelompok kecil, siswa mendokumentasikan temuan mereka dan menyusunnya menjadi karya berupa poster digital yang kemudian dipamerkan. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman sains, tetapi juga membangun keterampilan kolaboratif dan literasi teknologi.
Menariknya program ini juga mengintegrasikan evaluasi cognitive load atau beban kognitif siswa. Pengukuran dilakukan melalui kuesioner setelah kegiatan eksplorasi berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan sains lokal mampu menekan beban kognitif siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan penerapan prinsip Cognitive Load Theory dan multimedia learning yang digunakan dalam desain pembelajaran program tersebut.
Dampak program ini terlihat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap lingkungan sekitar. Data menunjukkan lonjakan skor pemahaman dari rata-rata 20,00 sebelum program menjadi 92,00 hingga 100,00 setelah pelaksanaan. Tidak hanya itu, budaya kolaboratif antara siswa dan guru juga mulai terbentuk melalui kegiatan observasi, dokumentasi, hingga pameran karya. Bahkan, aspek keberlanjutan program mencapai skor maksimal, mencerminkan komitmen sekolah untuk menjadikan eksplorasi sains lokal sebagai kegiatan yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, program PKM ini merupakan hibah dari Kementerian Dikti Saintek serta mendapat dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM UIR) dengan total pendanaan sebesar Rp45.000.000. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa Pendidikan Biologi, Zahra Anandita Salsabila dan Amelia Swastika.(*)

